Sembilan Pustaka - Indonesia

Menimbang Syawal Dan Hutang Ramadhan

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM... Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, (CATATAN : JANGAN DIBACA PADA SAAT ADZAN DI MESJID SEDANG BERKUMANDANG)

Tanya:”Assalamu’alaykum Wr Wb, mas..”
Jawab:”Wa’alaykumsalam Wr Wb. Ada yg bisa saya bantu?”

T:”Kita ketemu lagi ya? Begini…saya mau tanya tentang puasa Syawal”
J:”Iya…kita ketemu lagi di bulan Syawal. Silakan bertanya, semoga saya bisa membantu?”

T:”Puasa Syawal itu berapa hari ya? Saya agak lupa, 6 hari atau 7 hari?”
J:”Berdasarkan contoh dari Rasululloh SAW, puasa Syawal dilakukan selama 6 hari.”

T:”Kok 6 hari? Kenapa bukan 7 hari? Kan biar pas dari Senin sampai Minggu.”
J:”Jadi begini. Puasa Syawal melengkapi puasa Ramadhan yg baru kita lakukan. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa barangsiapa puasa Ramadhan lalu diikuti puasa Syawal selama 6 hari, ibaratnya dia sudah berpuasa selama setahun penuh.”

T:”Waaahhh…hebat sekaliiii…tapi saya kok jadi bingung. Kok bisa dihitung selama setahun ya?”
J:”Perhitungannya begini. Amal ibadah dihitung 10x, sehingga 1 bulan puasa Ramadhan = 10 bulan puasa. Lalu 6 hari puasa Syawal = 60 hari puasa = 2 bulan puasa. Total 10 + 2 bulan = 12 bulan berpuasa.”

T:”Ooo…begitu yaa..? Ada hadits atau dalilnya ga mas? Saya bukannya tidak yakin, tapi biar lebih sreg.”
J:”Ini dalilnya. “Barangsiapa berpuasa Ramadhan (penuh) lalu diikuti dengan berpuasa enam hari dalam bulan Syawal maka dia seperti berpuasa seumur hidup. (HR. Muslim)”

T:”Lalu, mas…bagaimana sih pelaksanaan puasa Syawal itu?”
J:”Sama seperti puasa2 pada umumnya. KIta berpuasa selama 6 hari di bulan Syawal.”

T:”Apakah mesti berturut-turut? Maksud saya, langsung puasa dari Senin - Sabtu?”
J:”Tidak perlu dilakukan berturut-turut. Yang penting dilakukan di bulan Syawal.”

T:”Istri saya ingin berpuasa Syawal, tapi dia masih punya hutang puasa Ramadhan. Bagaimana dong? Mana yang mesti didahulukan?”
J:”Saya sendiri punya pendapat silakan lakukan puasa yg bisa istri anda lakukan. Jika ingin puasa Syawal dulu, silakan. Jika ingin melunasi hutang puasa Ramadhan dulu, boleh juga…malah lebih baik.”

T:”Ya…saya mengerti. Lebih baik melunasi hutang Ramadhan dulu baru Syawalan ya? Karena puasa Ramadhan itu WAJIB sedang puasa Syawal itu SUNNAH. Bukan begitu mas?”
J:”Ah, anda tepat sekali. Memang itu maksud saya. Hanya saja, kita tidak bisa ’saklek’ begitu.”

T:”Saklek bagaimana? Saya kok tidak mengerti…”
J:”Jadi begini. Puasa Syawal, sesuai penjelasan di atas, MESTI dilakukan di bulan Syawal. Waktunya pendek. Sementara kaum perempuan dalam sebulan itu akan mendapatkan haid/mens selama 7-10 hari. Dengan demikian makin pendek waktu yg dimiliki kaum perempuan.”

T:”Lalu? Lalu?”
J:”Dari penjelasan dan logika itu, saya sendiri TIDAK MELARANG istri saya untuk Syawalan dahulu baru kemudian melunasi hutangnya di bulan-bulan berikutnya.”

T:”Jadi, bagaimana kesimpulannya mas?”
J:”Kesimpulannya:
1. Puasa Syawal, selama 6 hari, dilakukan HANYA DI BULAN SYAWAL
2. Boleh tidak dilakukan berturut-turut
3. Bagi kaum perempuan, sebaiknya lebih baik lunasi dulu hutang puasa Ramadhan baru Syawalan. Tapi menurut saya, sah-sah saja jika hendak Syawalan terlebih dahulu, baru melunasi hutang Ramadhan. Penyebabnya karena waktu Syawal hanya sebentar (hanya 1 bulan).”

T:”Tapi mas…saya kok lebih sreg lunasi hutang Ramadhan baru Syawalan. Ibaratnya, kok ngejar yg sunnah dulu sementara yg wajib malah ditunda? Saya malah punya pikiran, eh, analogi begini. Bagaimana kita sholat sunnah bada’ Isya (yg sunnah) sementara kita belum sholat Isya (yg wajib)?”
J:”Betul sekali. Itu sebabnya, silakan pilih dan tetapkan keyakinan anda. Jika anda, eh, istri anda yakin bahwa dia hendak melunasi Ramadhan dulu baru Syawalan ya monggo. Mau Syawalan dulu, seperti istri saya, juga monggo. Intinya: JANGAN MEMPERSULIT diri sendiri..”

T:”Ok mas…terima kasih…”
J:”Sama-sama…”

T:”Wassalamu’alaykum wr wb…”
J:”Wa’alaykumsalam wr wb. Oya, Taqabalallahu minna wa minkum. Shiyaamana wa shiyaamakum. Minal ‘aidin wal faizin. Maaf lahir dan batin ya mas?”

T:”Oya ya…sama-sama mas…aamiin…”
J:*salaman dg mas T*

WaLLAHu a'lam bishawab, Wassalamu'alaikum warahmatuLLAHI wabarakatuh. sembilanpustaka
~o0o~ sembilanpustaka ~o0o~
READMORE
 

Rute Marathon Puasa (4of4)

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM... Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, (CATATAN : JANGAN DIBACA PADA SAAT ADZAN DI MESJID SEDANG BERKUMANDANG)

Akhirnya sampai juga kita di ujung perjalanan rute Puasa Marathon, kali ini akan kita bahas bagian dari Puasa Syawal.

Puasa Syawal adalah salah satu ibadah sunnah yang dapat kita jalankan di bulan Syawal, sebagai salah satu upaya untuk dapat menyempurnakan shaum Ramadhan yang barusaja dilakukan satu bulan sebelumnya. Lalu yang banyak menjadi pertanyaan bagi kalangan awam, berat atau ringankah menjalankan Puasa Syawal itu?

Mengapa sampai ada pertanyaan seperti itu? Sebagaimana kita ketahui bersama, meskipun Puasa Syawal itu ‘hanya’ dijalankan selama 6 hari, yang pastinya jauh lebih pendek bila dibandingkan dengan puasa Ramadhan yang ‘wajib’ dijalankan selama 29-30 hari, akan tetapi Puasa Syawal ini dirasa sangat berat untuk dilakukan bagi kebanyakan kaum muslim. Hal ini mungkin akan mendapat banyak pembenaran bila dipikirkan secara logika. Dilihat dari jumlah hari-nya saja sebenarnya sudah dapat kita tarik kesimpulan, puasa Syawal itu ‘lebih’ ringan, akan tetapi pada kenyataannya masih banyak yang merasa berat untuk menjalankannya.

Lalu sebenarnya, apa penyebab Puasa Syawal menjadi terasa ‘lebih’ berat untuk dilakukan?

Satu, kebanyakan kaum muslim merasa dirinya baru saja bebas dari kewajiban puasa Ramadhan. Banyak diantara mereka yang beranggapan bahwa puasa di bulan Ramadhan sudah cukup sebagai sarana ibadah, terutama untuk puasa. Sehingga puasa sunnah di bulan lain tidaklah terlalu penting. Akhirnya, banyak diantara mereka yang merasa tidak perlu lagi menunaikan puasa Syawal.

Dua, bisa jadi masih banyak kaum muslim yang belum mengetahui manfaat utama dari Puasa Syawal. Manfaat utama dari Puasa Syawal adalah untuk menyempurnakan ibadah puasa yang telah dilakukan di bulan Ramadhan. Sebagaimana sabda Rasululloh SAW,

dari Abu Ayyub rodhiyallahu anhu: “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Siapa yang berpuasa Ramadhan dan melanjutkannya dengan 6 hari pada Syawal, maka itulah puasa seumur hidup’.” [Riwayat Muslim 1984, Ahmad 5/417, Abu Dawud 2433, At-Tirmidzi 1164] Selain itu, anda bisa baca kembali poin 1.

Tiga, masalah kebersamaan. Puasa Ramadhan terasa lebih mudah dilakukan karena orang-orang di sekeliling anda juga berpuasa. Sementara untuk puasa Syawal, anda akan berpuasa sementara orang-orang lain cenderung tidak berpuasa. Adalah hal yang aneh, jika di Indonesia, yg mayoritas penduduknya beragama Islam, sulit untuk puasa sunnah. Bagi orang-orang yg pernah tinggal di negara non muslim, saya yakin akan lebih mudah untuk menuaikan puasa sunnah, karena mereka sudah terbiasa puasa di tengah-tengah orang yang tidak berpuasa. Terlebih bagi kaum muslim di Jakarta, yg sehari-hari mesti berhadapan dg cuaca cukup panas dan teriknya matahari.

Nah, menurut anda sendiri, puasa Syawal mudah atau sulit?

WaLLAHu a'lam bishawab, Wassalamu'alaikum warahmatuLLAHI wabarakatuh. sembilanpustaka
~o0o~ sembilanpustaka ~o0o~
READMORE
 

Cowok Keren, Kenalan Dong!

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM... Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, (CATATAN : JANGAN DIBACA PADA SAAT ADZAN DI MESJID SEDANG BERKUMANDANG)

Cowok keren versi hedonis

Penayangan sinetron akhir-akhir ini semakin menggiring masyarakat ke arah budaya hedonis dan permissive yang berasal dari orang Barat. Budaya hedonis menyeret masyarakat ke dalam kehidupan yang hanya mengejar kesenangan duniawi saja. Sehingga berkembanglah perilaku ke-serba-boleh-an (permissive) dalam berbuat dan berpikir demi meraih predikat sukses yang hidup serba ‘wah' dan mampu menyalurkan hawa nafsunya di mana saja kapan saja. Iih…kayak kambing aja! Naudzubillahimindzalik

Selain gaya hidup mewah yang identik dengan gaya hidup metropolis, kaum hedonis juga punya standar sendiri dalam menilai manusia. Mereka menilai derajat manusia berdasarkan penampilan fisik dengan segala aksesorisnya saja. Seperti yang digambarkan dalam sinetron-sinetron itu. Kaum hedonis seolah mengelompokkan cowok ke dalam dua kategori, with ‘N' or without ‘N'. Cowok with ‘N' artinya cowok keren. Yang selalu punya nilai lebih dalam berpenampilan. Sementara cowok without ‘N' berarti cowok kere alias cowok yang nilainya minus semua dalam berpenampilan. Yang ngerasa harap sabar ya. Gubrak-Dhienk-Jedhog!!!

Penampilan bagi kaum hedonis wajib modis. Biar dapet gelar cowok keren atau cewek kece. Lihat saja, iklan produk minyak rambut, fashion, farfum, sepatu, mobil, sampai rokok selalu disejajarkan dengan julukan cowok keren. Kebayang kan, orang yang terkena wabah hedonis ini bakal repot ngelakoninnya. Soalnya butuh modal gedhe. Parahnya banyak remaja sekarang yang masih disubsidi penuh ama orang tuanya mulai terjangkiti wabah hedonis. Meski kantong cekak, penampilan tetep kudu enak. Nggak mau tahu, pokoknya orangtua kudu siap mensuplai segala kebutuhannya dalam berpenampilan. Kalo perlu pake aksi merengek, tutup mulut, mengunci diri dikamar, mogok makan atau banting pintu.

Padahal pepatah bilang “don't judge the book by its cover”. Artinya, jangan beli buku kalo nggak ada kovernya…hehehe… keliru donk. Yang bener, jangan pernah menilai orang dari penampilan luarnya. Suerrr ewer ewer. Belum tentu cowok-cowok keren itu tingkah lakunya sekeren tampangnya. Banyak cowok-cowok keren dalam bis kota ato gerbong kereta yang punya tampang eye catching. Dipadukan dengan setelan ‘eksmud'. Potongan rambut sampai sepatu klimis abis. Tapi hobinya ngambil dompet ato HP orang tanpa permisi. Pak, copet pak!!!

Selain penampilan dan gaya hidup, cowok keren juga kudu punya fisik yang oke. Standarnya; wajah handsome , berjenggot, no jerawat dengan dagu lancip belah tengah. Nggak cuma itu, kaum hedonis juga memfokuskan perhatiannya ama fisik cowok keren dari sisi sex appeal (daya tarik seksual)–nya. Karena bagi mereka, hubungan pria dan wanita nggak punya nilai lebih selain untuk pemuasan syahwat semata, naudzubillahimindzalik. Cewek-cowok berlomba-lomba untuk menonjolkan lekuk tubuhnya yang punya daya tarik seksual. Yang cowok jadi penghuni fitness centre biar badannya kekar, dadanya bidang, otot-ototnya juga pada nonjol. Sementara yang cewek pada pake baju full pressed body. Lemper aja kalah ketat.

Sobat muda muslim, kayaknya kita kudu makin hati-hati dengan beredarnya para ‘pengemban dakwah' hedonis yang menjelma sebagai selebritis dengan gaya hidup metropolis. Bagi mereka kemuliaan seseorang hanya dinilai dari penampilan fisik dan gaya hidup. Padahal itu semua cuma sementara doang dan bisa bikin kita kecele di akhirat nanti. Karena Allah cuma menilai keterikatan kita sama hukum-Nya selama di dunia yang punya nilai plus. Bukan penampilan fisik atau aksesoris, seperti yang dipahami kaum hedonis. Yo'i kan? Mufakat?

Cowok keren versi Islam

Nggak sedikit lho, orang menilai remaja muslim selalu masuk kategori cowok without ‘N'. Apalagi sampai diidentikkan dengan peci, sarung, dan baju koko yang jadi aksesoris kebangsaannya. Memang ada yang kayak gitu, tapi nggak semuanya. Kayaknya keterlaluan banget deh kalo remaja muslim masih menilai orang dari penampilannya doang. Padahal Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam dalam salah satu haditsnya menerangkan bahwa Allah tidak melihat kemuliaan seseorang itu dari wajah, pakaian, atau penampilan dengan segala aksesisnya. Melainkan dari hati dan ketakwaannya. firman Allah yang artinya:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (QS. al-Hujur√Ęt[49]:13)

Tapi Don't worried guys, Islam nggak melarang remaja muslim untuk berpenampilan oke. Karena Allah juga menyukai keindahan selama masih dalam koridor aturan-Nya. Tapi boleh bukan berarti harus. Jadi remaja muslim juga kudu pintar dan sholeh. Pintar dalam arti mampu menjadikan Islam sebagai standar dalam berpikir dan berbuat. Ini bisa diperoleh kalo kita nggak alergi dengan pengajian wawasan Islam yang lagi marak di sekitar lingkungan masing-masing. Dengan modal itu, kita bisa menjadi anak yang sholeh. Dan semuanya bukan omong kosong. Para sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam juga banyak yang masuk kategori remaja muslim idaman.

Contohnya Mushab bin Umair. Seorang remaja muslim yang jadi duta pertama guna membuka dakwah pertama kalinya di Madinah. Dia dibesarkan di tengah keluarga quraisy terkemuka. Wajahnya tampan, hidupnya mewah, serba kecukupan, dan selalu menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan. Wajar saja kalo dia menjadi buah bibir gadis-gadis Mekkah. Dia memang keren, Tao Ming Tse aja kalah :P Tapi lebih keren lagi ketika dia meninggalkan kehidupannya yang serba wah agar bisa memeluk Islam. Sampai Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam berkata: “ Dahulu saya lihat Mush'ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orangtuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. ”

Selain Mushab, ada sahabat Ali bin Abi Thalib Radiallahu anhu. Beliau termasuk salah satu khulafaur Rasyidin. Di usianya yang sangat muda (8 tahun) dia sudah masuk Islam. Bahkan berani menghadapi bahaya dengan menggantikan posisi tidur Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam yang akan dibunuh orang-orang kafir saat peristiwa hijrah. Dan masih banyak sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam yang layak disebut remaja muslim idaman.

Sobat muda muslim, jadi remaja muslim idaman itu gampang aja kok sebenrnya. Nggak perlu repot-repot jadi keren atau beken. Yang penting sholeh, berilmu, dan bertakwa. Caranya, mengkaji Islam dan menerapkannya dalam keseharian. Dan kita siap dengan resiko yang bakal dihadapi. Menukar kesenangan duniawi dengan kemuliaan di hadapan Allah. Dan satu lagi, jangan geer kalo efek sampingnya nanti bakal diuber-uber para akhwat. Makanya kalo pinjem uang, jangan lupa balikin. Hehehe.. v^0^'

Sekarang udah tahu kan siapa cowok keren itu? Yang pasti bukan versi hedonis dong. Tapi remaja muslim idaman umat dan... efek sampingnya, jadi idaman para akhwat. Setuju? (pembaca ngangguk-ngangguk) Nah, gitu dong.

Nah, biar oke juga, ayo kita perdalam Islam dengan penuh semangat. Nggak boleh males-malesan, apalagi males beneran. Rapatkan barisan, perkuat pondasi ISLAM. Hamazah!!!

WaLLAHu a'lam bishawab, Wassalamu'alaikum warahmatuLLAHI wabarakatuh. sembilanpustaka
~o0o~ sembilanpustaka ~o0o~
READMORE
 

Murah!!! Firdaus Regency Hunian Siap Pakai

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM... Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, (CATATAN : JANGAN DIBACA PADA SAAT ADZAN DI MESJID SEDANG BERKUMANDANG)

Hunian Nyaman Tak Terbayangkan!

Type:
> Jannatun na'im (ready stock)
> Jannatul ma'wa (ready stock)

Fasilitas:
> sungai susu salsabila
> view tak terbatas
> akses masuk 7 pintu utama
> sarana olahraga mahalengkap dan mahaluas
> taman JUTAAN hektar dengan buah segar, ranum, nikmat, dan siap santap

Tersedia:
KAVLING EKSLUSIF BAGI MUJAHID/AH DAKWAH (limited stock)

Syarat pemesanan:
> bertaubat & kembali kepada jalan Allah
> memegang teguh agama Allah
> menjadi muslim soleh/ah dan muslih

DISKON 100% !!!
Bagi anda yang memesan sekarang

Kantor Pemasaran:
Jl. Fisabilillah, Bumi Allah
telp: 42443 + yang sunnah

WaLLAHu a'lam bishawab, Wassalamu'alaikum warahmatuLLAHI wabarakatuh. sembilanpustaka
~o0o~ sembilanpustaka ~o0o~
READMORE
 

Kesah Fajar Awal Ramadhan

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM... Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, (CATATAN : JANGAN DIBACA PADA SAAT ADZAN DI MESJID SEDANG BERKUMANDANG)

langit telah benarbenar gelap
hitamnya pekat tanpa rembulan
namun jutaan bintang betebaran di samudra langit
ramadhan telah datang
lengkap dengan segala tradisinya
beduk masjid yang ditabuh bertalutalu
anakanak yang gembira berangkat ke masjid
main petasan dan kembang api
remajaremaja yang diamdiam saling mencuri pandang
ibuibu yang tetap saja setia dengan dapurnya

duhai Allah
terima kasih untuk telah menyampaikan kami
pada ramadhanMu yang agung
selamatkan kami dari ramadhan
selamatkan ramadhan dari kami

duhai Allah
kami bersaksi, bahwa tak ada ilaah
tak ada yang kucinta
tak ada yang kudamba
tak ada sempurna
selain Engkau
duhai Allah

duhai Allah
betapa dosa kami teramat banyaknya
seperti buih di antara ombak
seperti butiran pasir di sisian laut
seperti gugusan awan di langit ketika mendung
ampuni kami
duhai Allah

duhai Allah
surgaMu berbata emas dan perak
keindahannya tak pernah tertangkap jemari mata
harumnya tak pernah tercium manusia
kenikmatannya tak pernah terbayang di kembara liar manusia
anugerahkan surgaMu pada kami
duhai Allah

duhai Allah
nerakaMu dibahanbakari oleh iblis dan manusia
panasnya berlipat
siksanya dahsyat
aaaaahhhhh tak terbayang
jauhkan dari kami
duhai Allah

WaLLAHu a'lam bishawab, Wassalamu'alaikum warahmatuLLAHI wabarakatuh. sembilanpustaka
~o0o~ sembilanpustaka ~o0o~
READMORE
 

Kesah Senja Akhir Sya'ban

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM... Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, (CATATAN : JANGAN DIBACA PADA SAAT ADZAN DI MESJID SEDANG BERKUMANDANG)

senja itu pecah
langit memendar dalam kuningjinggamerah cahya
pendarnya membias di cabikancabikan mega
seperti tengah melukisi langit

namun debu betebaran di jagad nafas
kemarau panjang merentang
membiarkan panas hawa
memeras jiwa manusia

senja akhir sya’ban datang juga
hitungan bulannya telah sempurna
karena hilal yang dinanti di bilangan duapuluhsembilan
tak kunjung mewujud

lantas terbayang sempurna
seluruh dosa diri di sebelas purnama berlalu
dosa pandangi dunia dengan penuh nafsu
dosa dengarkan laksaan berita dusta dan cela
dosa ucapkan jutaan kata keji
dosa genggam tangan
dosa langkah tanpa arah

duhai Allah
pemilik seluruh hitungan waktu
detik
menit
jam
hari
bulan
tahun
abad
bahkan hitungan tak berbatas manusia
berkahi kami di akhir sya’ban
di bulan RasulMu yang mulia
dan sampaikan kami
sampaikan kami di ramadlan yang mahamulia

ampuni kami duhai Allah
atas dosa yang menggelembungkan kami dalam pekat jiwa
dan sucikan hati kami
memasuki ramadlanMu
yang penuh rahmah dan maghfirah
dan janji pembebasan dari panasnya neraka

WaLLAHu a'lam bishawab, Wassalamu'alaikum warahmatuLLAHI wabarakatuh. sembilanpustaka
~o0o~ sembilanpustaka ~o0o~
READMORE
 

Rute Marathon Puasa (3of4)

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM... Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, (CATATAN : JANGAN DIBACA PADA SAAT ADZAN DI MESJID SEDANG BERKUMANDANG)

Ramadhan adalah bulan mulia dan bulan pengampunan. Di bawah ini ada 12 amalan mulia yang bisa dikerjakan di bulan Ramadhan yang kini tengah kita jalani.

Rasulullah SAW bersabda; "Apabila orang-orang mengetahui nilai lebih Ramadhan, mereka akan berharap agar semua bulan dijadikan sebagai bulan Ramadhan." (HR. Ibnu Huzaimah).

Diantara amaliyah-amaliyah Ramadhan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW baik itu amaliyah ibadah maupun amaliyah ijtijma'iyah adalah sebagai berikut:

1. Shiyam (puasa)
Amaliyah terpenting selama bulan Ramadhan tentu saja adalah shiyam (puasa), sebagaimana termaktub dalam firman Allah pada surat al Baqarah : 183-187. Dan diantara amaliyah shiyam Ramadhan yang diajarkan oleh Rasulullah ialah:

a. Berwawasan yang benar tentang puasa dengan mengetahui dan menjaga rambu-rambunya. "Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya." (HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi).

b. Tidak meninggalkan shiyam, walaupun sehari, dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari'at Islam. Rasulullah SAW bersabda bahwa : "Barangsiapa tidak puasa pada bulan Ramadhan sekalipun sehari tanpa alasan rukhshoh atau sakit, hal itu (merupakan dosa besar) yang tidak bisa ditebus bahkan seandainya ia berpuasa selama hidup." (HR. At Turmudzi).

c. Menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi atau bahkan menggugurkan nilai shiyam. Rasulullah SAW pernah bersabda: Bukanlah (hakikat) shiyam itu sekedar meninggalkan makan dan minum, melainkan meninggalkan pekerti sia-sia (tidak bernilai) dan kata-kata bohong." (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah).

d. Bersungguh-sungguh melakukan shiyam dengan menepati aturan-aturannya. Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan penuh Iman dan kesungguhan, maka akan diampunkani dosa-dosa yang pernah dilakukan." (HR. Bukhori, Muslim dan Abu Daud).

e. Bersahur, makanan yang berkah (al ghoda' al mubarak). Dalam hal ini Rasulullah pernah bersabda bahwa: "Makanan sahur semuanya bernilai berkah, maka jangan anda tinggalkan, sekalipun hanya dengan seteguk air. Allah dan para Malaikat mengucapkan salam kepada orang-orang yang makan sahur." (HR. Ahmad). Dan disunnahkan mengakhirkan waktu makan sahur.

f. Ifthar, berbuka puasa. Rasululah pernah menyampaikan bahwa salah satu indikasi kebaikan umat manakala mereka mengikuti sunnah dengan mendahulukan ifthor (berbuka puasa) walau dengan air saja. Rasulullah SAW bersabda bahwa: "Sesungguhnya termasuk hamba Allah yang paling dicintai oleh-Nya, ialah mereka yang bersegera berbuka puasa." (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

g. Berdo'a. Sesudah menyelesaikan ibadah puasa dengan ber-ifthar, sebagai wujud syukur kepada Allah, Rasulullah Saw berdo'a.

2. Tilawah (membaca) al Qur'an
Ramadhan adalah bulan diturunkannya al Qur'an. (QS. Al Baqarah: 185). Pada bulan ini Malaikat Jibril pernah turun dan menderas al Qur'an dengan Rasulullah SAW (HR. Bukhori). Imam az Zuhri pernah berkata : "Apabila datang Ramadhan maka kegiatan utama kita (selain shiyam) ialah membaca al Qur'an". Hal ini tentu saja dilakukan dengan tetap memperhatikan tajwid (kaidah membaca al Qur'an) dan esensi dasar diturunkannya al Qur'an untuk ditadabburi, dipahami dan diamalkan. (QS. Shad: 29).

3. Ith'am ath tho'am (memberikan makanan dan shodaqoh lainnya).
Salah satu amaliyah Ramadhan Rasulullah ialah memberikan ifthar (santapan berbuka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa. Seperti beliau sabdakan: "Barangsiapa yang memberi ifthar kepada orang-orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut." (HR. Turmudzi dan an Nasa'i).

Memberi makan dan sedekah selama bulan Ramadhan ini bukan hanya untuk keperluan ifthar melainkan juga untuk segala kebajikan. Rasulullah yang dikenal dermawan dan penuh peduli terhadap nasib umat, pada bulan Ramadhan kedermawanan dan keperduliannya tampil lebih menonjol.

4. Memperhatikan kesehatan.
Shaum memang termasuk kategori ibadah mahdhah (murni). Sekalipun demikian agar nilai maksimal ibadah puasa dapat diraih, Rasulullah justru mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan. Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa dibawah ini:
a. Bersikat gigi (bersiwak) (HR. Bukhori dan Abu Daud).
b. Berobat seperti dengan berbekam (al hijamah) seperti yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim.
c. Memperhatikan penampilan, seperti pernah diwasiatkan oleh Rasulullah SAW kepada sahabat Abdullah ibnu Mas'ud Ra, agar memulai puasa dengan penampilan baik dan tidak dengan wajah yang cemberut. (HR. AL Haitsami).

5. Memperhatikan keharmonisan keluarga.
Sekalipun puasa adalah ibadah yang khusus diperuntukkan kepada Allah, yang memang juga mempunyai nilai khusus dihadapan Allah, tetapi agar hal tersebut di atas dapat terealisir dengan lebih baik, maka Rasulullah justru mensyari'atkan agar selama berpuasa umat tidak mengabaikan harmoni dan hak-hak keluarga.

6. Memperhatikan aktivitas da'wah dan sosial
Kontradiksi dengan kesan dan perilaku umum tentang berpuasa, Rasulullah SAW justru menjadikan bulan puasa sebagai bulan penuh amaliyah dan aktivitas positif. Selain yang telah tergambar seperti tersebut dimuka, beliau juga aktif melakukan da'wah, kegiatan sosial, perjalanan jauh dan berjihad.

Dalam sembilan kali Ramadhan yang pernah beliau alami, beliau misalnya melakukan perjalanan dalam perang Badr (tahun 2 H), Mekkah (tahun 8 H), dan Tabuk (tahun 9 H), mengirimkan 6 askariyah (pasukan jihad yang tidak secara langsung beliau pimpin), melaksanakan perkawinan putrinya (Fathimah) dengan Ali RA, beliau berkeluarga dengan Hafshoh dan Zainab Ra, meruntuhkan berhala-berhala Arab seperti Lata, Manat dan Suwa', meruntuhkan masjid adh Dhiror, dll.

7. Qiyam Ramadhan (sholat tarawih)
Diantara kegiatan ibadah Rasulullah selama bulan Ramadhan ialah ibadah qiyam al lail, yang belakangan lebih populer disebut sebagai shalat tarowih. Hal demikian ini beliau lakukan bersama dengan para sahabat beliau. Sekalipun karena kekhawatiran bila akhirnya shalat tarawih (berjama'ah) itu menjadi diwajibkan oleh Allah, Rasulullah kemudian meninggalkannya. (HR. Bukhori Muslim). Dalam situasi itu riwayat yang shohih menyebutkan bahwa Rasulullah shalat tarawih dalam 11 raka'at dengan bacaan-bacaan yang panjang. (HR. Bukhori Muslim).

Tetapi ketika kekhawatiran tentang wajibnya shalat tarawih itu tidak ada lagi, kita dapatkan riwayat-riwayat lain, juga dari Umar ibn al Khothob ra, yang menyebutkan jumlah raka'at shalat tarawih adalah 21 atau 23 raka'at. (HR. Abdur Razaq dan al Baihaqi).

8. I'tikaf.
Diantara amaliyah sunnah yang selalu dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam bulan Ramadhan ialah i'tikaf, yakni berdiam diri di dalam masjid dengan niat beribadah kepada Allah. Seperti dilaporkan oleh Abu Sa'id al Khudlri Ra, hal demikiam ini pernah beliau lakukan pada awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan dan terutama pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Ibadah yang demikian penting ini sering dianggap berat sehingga ditinggalkan oleh orang-orang Islam, maka tidak aneh kalau Imam az Zuhri berkomentar; "Aneh benar keadaan orang Islam, mereka meninggalkan ibadah i'tikaf, padahal Rasulullah SAW tak pernah meninggalkannya semenjak beliau datang ke Madinah sehingga wafatnya disana."

9. Lailat al Qodr
Selama bulan Ramadhan ini terdapat satu malam yang sangat berkah, yang populer disebut sebagai lailat al Qadr, malam yang lebih berharga dari seribu bulan (QS. Al Qadr : 1-5). Rasulullah tidak pernah melewatkan kesempatan untuk meraih lailatul qadr terutama pada malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan puasa (HR. Bukhori Muslim).

Dalam hal ini Rasulullah menyampaikan bahwa : "Barangsiapa yang sholat pada malam lailatul qadr berdasarkan iman dan ihtisab, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhori Muslim).

10. Umroh.
Umroh atau haji kecil itu bagus juga apabila dilaksanakan pada bulan Ramadhan, sebab nilainya bisa berlipat-lipat, sebagaimana pernah disabdakan oleh Rasulullah kepada seorang wanita dari anshar bernama Ummu Sinan: "Agar apabila datang bulan Ramadhan ia melakukan umroh, karena nilainya setara dengan haji bersama Rasulullah SAW. (HR. Bukhori Muslim).

11. Zakat Fitrah
Pada hari-hari terakhir bulan Ramadhan amaliyah yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW ialah membayarkan zakat fitra, suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh umat Islam baik laik-laki maupun perempuan, baik dewasa maupun anak-anak (HR. Bukhori Muslim).

Zakat fitrah ini juga berfungsi sebagai pelengkap penyucian untuk pelaku puasa dan untuk membantu kaum fakir miskin. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

12. Ramadhan bulan taubat menuju fithrah
Selama sebulan penuh, secara berduyun-duyun umat kembali kepada Allah yang Maha Pemurah juga Maha Pengampun. Dia Dzat yang menyampaikan bahwa pada setiap malam bulan Ramadhan Allah membebaskan banyak hambaNya dari api nereka. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Karenanya inilah satu kesempatan emas agar umat dapat kembali, bertaubat agar ketika mereka selesai melaksanakan ibadah puasa mereka benar-benar kembali kepada fithrahnya.

WaLLAHu a'lam bishawab, Wassalamu'alaikum warahmatuLLAHI wabarakatuh. sembilanpustaka
~o0o~ sembilanpustaka ~o0o~
READMORE
 

Surat Dari Seberang Hijab

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM... Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, (CATATAN : JANGAN DIBACA PADA SAAT ADZAN DI MESJID SEDANG BERKUMANDANG)

***

Kisah dibawah ini sepenuhnya FIKTIF belaka. Mohon maaf bila ada kesamaan nama, lokasi, waktu, kejadian dan hal sekecil apapun yang mirip dengan pembaca, hal itu murni kesengajaan dari penulis...... v^_^"

***

Di tengah pekatnya malam yang membentang. Sunyi memang. Dan ana masih saja berfikir tentang diri antum, akhi. Jangan salah sangka ataupun menaruh prasangka. Semua semata-mata hanya untuk muhasabah terutama bagi diri ana, makhluk yang Rasulullah SAW sinyalirkan sebagai pembawa fitnah terbesar. Surat antum sudah ana terima, ana baca dan ana simpan. Surat yang membuat ana gementar. Tentunya antum sudah tahu apa yang membuat ana nyaris tidak bisa tidur kebelakangan ini.

“Ukhti, saya sering memperhatikan anti. Kalau sekiranya tidak dianggap lancang, saya berniat berta’aruf dengan anti.”

Jujur ana katakan bahawa itu bukan perkataan pertama yang dilontarkan ikhwan kepada ana. Antum adalah orang yang kesekian. Tetap saja yang ‘kesekian’ itu yang membuat ana diamuk perasaan yang tidak menentu. Astaghfirullahaladzim. Bukan, bukan perasaan melambung kerana merasakan diri ana begitu mendapat perhatian. Tetapi karena sikap antum itu mencampak ke arah jurang kepedihan dan kehinaan. ‘Afwan kalau yang terfikir pertama kali di benak bukannya sikap memeriksa, tapi malah sebuah tuduhan: ke mana ghaddhul bashar-mu?

Akhifillah,
Alhamdulillah Allah mengkaruniakan dzahir yang jaamilah. Dulu, di masa jahiliyah, karunia itu senantiasa membawa fitnah. Setelah hijrah, ana fikir semua hal itu tidak akan berulang lagi. Dugaan ana ternyata salah. Mengapa fitnah ini justru menimpa orang-orang yang ana hormati sebagai pengemban risalah da’wah? Siapakah yang salah di antara kita?

***

“Adakah saya kurang menjaga hijab, ukh?” tanyaku kepada Aida, teman sebilikku yang sedang mengamati diriku. Lama. Kemudian, dia menggeleng.

“Atau baju saya? Sikap saya?” — “Tidak, tidak,” sergahnya menenangkanku yang mulai berurai air mata.

“Memang ada perubahan sikap di kampus ini.”

“Termasuk diri saya?”

“Jangan menyalahkan diri sendiri meskipun itu bagus, sentiasa merasa kurang iman. Tapi tidak dalam hal ini. Saya cukup lama mengenali anti dan di antara kita telah terjalin komitmen untuk saling memberi tausiyah jika ada yang lemah iman atau salah. Ingat?”

Aku mengangguk. Aida menghela nafas panjang.

“Saya rasa ikhwan itu perlu diberi tausiyah. Hal ini bukan perkara baru kan ? Maksud saya dalam meng-cam akhwat di kampus.” Sepi mengembang di antara kami. Sibuk dengan fikiran masing-masing… .

“Apa yang diungkapkan dalam surat itu?”

“Ia ingin berta’aruf. Katanya dia sering melihat saya memakai jilbab putih. Anti tahu bila dia bertekad untuk menulis surat ini? Ketika saya sedang menjemur pakaian di depan rumah! Masya Allah…. dia melihat sedetail itu.”

“Ya.. di samping itu jarak waktu anti keluar juga tinggi.”

“Ukhti…,” sanggahku, “Anti percaya kan kalau saya keluar rumah pasti untuk tujuan syar’ie?”

“InsyaAllah saya percaya. Tapi bagi anggapan orang luar, itu masalah yang lain.”
-
Aku hanya mampu terdiam. Masalah ini sentiasa hadir tanpa ada suatu penyelesaian. Jauh dalam hati selalu tercetus keinginan, keinginan yang hadir semenjak aku hijrah bahawa jika suatu saat ada orang yang memintaku untuk mendampingi hidupnya, maka hal itu hanya dia lakukan untuk mencari keridhaan Rabb-nya dan dien-ku sebagai tolok ukur, bukan wajahku. Kini aku mulai risau mungkinkah harapanku akan tercapai?

***

Akhifillah,
Afwan kalau ana menimbulkan fitnah dalam hidup antum. Namun semua bukan keinginan ana untuk memiliki wajah seperti ini. Seharusnya di antara kita ada tabir yang akan membersihkan hati dari penyakitnya. Telah ana coba dengan segenap kemampuan untuk menghindarkan mata dari bahaya maksiat. Alhamdulillah hingga kini belum belum hadir sosok putera impian yang hadir dalam angan-angan. Semua ana serahkan kepada Allah ta’ala semata.

Akhi,
Tentunya antum pernah mendengar hadits yang tersohor ini. Bahawa wanita dinikahi karena empat perkara: kecantikannya, hartanya, keturunannya, atau dien-nya. Maka pilihlah yang terakhir (dien-nya) karena ia akan membawa lelaki kepada kebahagiaan yang hakiki.

Kalaulah ada yang mendapat keempat-empatnya, ibarat ia mendapat syurga dunia. Sekarang, apakah yang antum inginkan? Wanita shalihah pembawa kedamaian atau yang cantik tapi membawa kesialan? Maaf kalau di sini ana terpaksa berburuk sangka bahwa antum menilai ana cuma sebatas fisik belaka. Bagaimana antum tahu bahwa dien ana memenuhi kriteria yang bagus? Apakah dengan melihat frekuensi kesibukan ana? Banyaknya waktu yang habis di luar rumah?

Tidak. Antum tidak akan pernah tahu bila saatnya ana berbuat ikhlas lillahi ta’ala dan bila saatnya saya berbuat karena riya’. Atau adakah antum ingin mendapatkan istri wanita cantik yang memiliki segudang prestasi tetapi akhlaknya masih menjadi persoalan? Ana yakin sekiranya antum diberikan pertanyaan demikian, niscaya tekad antum akan berubah.

Akhifillah,
Tanyakan pada setiap akhawat kalau antum mampu. Yang tercantik sekalipun, maukah ia diper-istri-kan seseorang karena dzahirnya belaka? Jawabannya, insya Allah tidak. Tahukah antum bahawa kecantikan dzahir itu adalah mutlak pemberian Allah; Insya Allah antum tahu. Ia satu anugerah yang mutlak yang tidak boleh ditawar-tawar jika diberikan kepada seseorang atau dihindarkan dari seseorang. Jadi, manusia tidak mendapatkannya melalui pengorbanan. Lain halnya dengan kecantikan bathiniyyah. Ia melewati proses yang panjang. Berliku. Melalui pengorbanan dan segala macam pengalaman pahit. Ia adalah intisari dari manisnya kata, sikap, tindak tanduk dan perbuatan. Apabila seorang lelaki menikah wanita karena kecantikan batinnya, maka ia telah amat sangat menghargai perjuangan seorang manusia dalam mencapai kemuliaan jati dirinya. Faham?

Akhifillah,
Tubuh ini hanya pinjaman yang kembali pada-Nya bila tiba masa mengambilnya. Tapi ruh, kecantikannya menjadi milik kita yang abadi. Karenanya, manusia diperintahkan untuk merawat ruhiyahnya bukan hanya jasmaninya yang boleh usang dan koyak sampai waktunya.

Akhifillah,
Kalau antum ingin mencari akhawat yang cantik, antum juga seharusnya menilai pihak yang lain. Mungkin antum tidak memperhatikannya dengan teliti. (Alhamdulillah, tercapai maksudnya untuk keluar rumah tanpa menimbulkan perhatian orang). Pakaiannya sederhana, ia hanya memiliki beberapa helai. Dalam waktu seminggu antum akan menjumpainya dalam jubah-jubah yang tidak banyak koleksinya. Frekuwnsi waktu untuk keluar rumah tidak lama. Ia lebih suka memasak dan mengurus rumah demi membantu kepentingan saudari-saudarinya yang sibuk da’wah di luar. Ia nyaris tidak mempunyai keistimewaan apa-apa kecuali kalau antum sudah melihat shalatnya. Ia begitu khusyu’. Malam-malamnya dihiasi tahajjud dengan uraian air mata. Dibaca Qur’an dengan terisak. Ia begitu tawadhu’ dan zuhud. Ah, ana iri akan kedekatan dirinya dengan Allah. Benar, ia mengenal Rabbnya lebih dari ana. Dalam ketenangannya, ia tampak begitu cantik di mata ana. Beruntung ikhwan yang kelak memperisterikannya… (ana tidak perlu menyebut namanya.)

***

Malam semakin beranjak. Kantuk yang menghantar ke alam tidur tidak menyerang saat surat panjang ini belum usai. Tapi, sudah menjadi kebiasaanku tidak boleh tidur tenang bila saudaraku tercinta tidak hadir menemani. Aku tergugat apabila merasakan bantal dan guling di samping kanan telah kehilangan pemilik. Rasa penat yang belum ter-neutral-kan menyebabkan tubuhku terhempas di sofa.

Aida sedang diam dalam kekhusyu’kan. Wajahnya begitu syahdu, tertutup oleh deraian air mata. Entah apa yang terlintas dalam qalbunya. Sudah pasti ia merasakan aku tidak hairan saat menyaksikannya. Tegak dalam rakaatnya atau lama dalam sujudnya.


“Ukhti, tidak solat malam? “ tanyanya lembut seusai melirik mata.

“Ya, Sebentar,” kupandang wajahnya. Ia menatap jauh keluar jendela ruang tamu yang dibiarkan terbuka. “Dzikrul maut lagi?”

“Khusnudzan anti terlalu tinggi.”

Aku tersenyum. Sikap tawadhu’mu, Aida, menyebabkan bertambah rasa rendah diriku. Angin malam berhembus dingin. Aku masih enggan beranjak dari tempat duduk. Aida pun nampaknya tidak meneruskan shalat. Ia kelihatan seperti termenung menekuri kegelapan malam yang kelam.

“Saya malu kepada Allah,” ujarnya lirih.

“Saya malu meminta sesuatu yang sebenarnya tidak patut tapi rasanya keinginan itu begitu mendesak dada. Siapa lagi tempat kita meminta kalau bukan diri-Nya?”

“Apa keinginan anti, Aida?”

Aida menghela nafas panjang.

“Saya membaca buku Syeikh Abdullah Azzam pagi tadi,” lanjutnya seolah tidak menghiraukan. “Entahlah, tapi setiap kali membaca hasil karyanya, selalu hadir simpati tersendiri. Hal yang sama saya rasakan tiap kali mendengar nama Hasan al-Banna, Sayyid Quthb atau mujahid lain saat nama mereka disebut. Ah, wanita macam mana yang dipilihkan Allah untuk mereka? Tiap kali nama Imaad Aql disebut, saya bertanya dalam hati: Wanita macam mana yang telah Allah pilih untuk melahirkannya?”

Aku tertunduk dalam-dalam.

“Anti tahu,” sambungnya lagi, “Saya ingin sekiranya boleh mendampingin orang-orang sekaliber mereka. Seorang yang hidupnya semata-mata untuk Allah. Mereka tak tergoda rayuan harta dan benda apalagi wanita. Saya ingin sekiranya boleh menjadi seorang ibu bagi mujahid-mujahid semacam Immad Aql…”

Air mataku menitis perlahan. Itu adalah impianku juga, impian yang kini mulai kuragui kenyataannya. Aida tak tahu berapa jumlah ikhwan yang telah menaruh hati padaku. Dan rasanya hal iti tak berguna diketahui. Dulu, ada sebongkah harapan kalau kelak lelaki yang mendampingiku adalah seorang mujahid yang hidupnya ikhlas kerana Allah. Aku tak menyalahkan mereka yang menginginkan isteri yang cantik. Tidak. Hanya setiap kali bercermin, ku tatap wajah di sana dengan perasaan duka. Setakat inikah nilaiku di mata mereka? Tidakkah mereka ingin menilaiku dari sudut kebagusan dien-ku?

“Ukhti, masih tersisakah ikhwah seperti yang kita impikan bersama?” desisku.

Aida meramas tanganku. “Saya tidak tahu. Meskipun saya sentiasa berharap demikian. Bukankah wanita baik untuk lelaki baik dan yang buruk untuk yang buruk juga?”

“Anti tak tahu,” air mata mengalir tiba-tiba. “Anti tak tahu apa-apa tentang mereka.”

“Mereka?”

“Ya, mereka,” ujarku dengan kemarahan terpendam. “Orang-orang yang saya kagumi selama ini banyak yang jatuh berguguran. Mereka menyatakan ingin ta’aruf. Anti tak tahu betapa hancur hati saya menyaksikan ikhwan yang qowiy seperti mereka takluk di bawah fitnah wanita.”

“Ukhti!”

“Sungguh, saya terfikir bahawa mereka yang aktif da’wah di kampus adalah mereka yang benar-benar mencintai Allah dan Rasulnya semata. Ternyata mereka mempunyai sekelumit niat lain.”

“Ukhti, jangan su’udzan dulu. Setiap manusia punya kelemahan dan saat-saat penurunan iman. Begitu juga mereka yang menyatakan perasaan kepada anti. Siapa yang tidak ingin punya isteri cantik dan shalihah?”

“Tapi, kita tahukan bagaimana prosedurnya?”

“Ya, memang…”

“Saya merasa tidak dihargai. Saya berasa seolah-olah dilecehkan. Kalau ada pelecehan seksual, maka itu wajar karena wanita tidak menjaga diri. Tapi saya…. Samakah saya seperti mereka?”

“Anti berprasangka terlalu jauh.”

“Tidak,” aku menggelengkan kepala. “Tiap kali saya keluar rumah, ada sepasang mata yang mengawasi dan siap menilai saya mulai dari hujung rambut -maksud saya hujung jilbab- hingga hujung sepatu. Apakah dia fikir saya boleh dinilai melalui nilaian fisik belaka..”

“Kita berharap agar ia bukan jenis ikhwan seperti yang kita maksudkan.”

Ia orang yang aktif berda’wah di kampus ini, ukh.”

Aida memejamkan mata. Bisa kulihat ujung matanya basah. Kurebahkan kepala ke bahunya. Ada suara lirih yang terucap,

“Kasihan risalah Islam. Ia diemban oleh orang-orang seperti kita. Sedang kita tahu betapa berat perjuangan pendahulu kita dalam menegakkannya. Kita disibukkan oleh hal-hal sampingan yang sebenarnya telah diatur Allah dalam kitab-Nya. Kita tidak menyibukkan diri dalam mencari hidayah. Kasihan bocah-bocah Palestin itu. Kasihan saudara-saudara kita di Bosnia . Adakah kita boleh menolong mereka kalau kualitas diri masih seperti ini? Bahkan cinta yang seharusnya milik Allah masih berpecah-pecah. Maka, kekuatan apa yang kita punya?”

Kami saling bertatapan kemudian. MEncoba merangkai seribu makna yang tidak mampu dikatakan oleh kosa kata. Ada janji. Ada mimpi. Aku mempunyai impian yang sama seperti Aida: mendukung Islam di jalan kami. Aku ingin mempunyai anak-anak seperti yang dimiliki Asma. Anak-anak seperti Immad Aql. Aku tahu kualitas diri masih sangat jauh dari sempurna. Tapi seperti kata Aida; Meskipun aku lebih malu lagi untuk meminta ini kepada-Nya. Aku ingin menjadi pendamping seorang mujahid ulung seperti Izzuddin al-Qassam.

***

Akhifillah,
Mungkin antum tertawa membaca surat ini. Ah akhawat, berapa nilaimu sehingga mengimpikan mendapat mujahid seperti mereka? Boleh jadi tuntutan ana terlalu besar. Tapi tidakkah antum ingin mendapat jodoh yang setimpal? Afwan kalau surat antum tidak ana layani. Ana tidak ingin masalah hati ini berlarutan. Satu saja yang ana minta agar kita saling menjaga sebagai saudara. Menjaga saudaranya agar tetap di jalan yang diridhai-Nya. Tahukah antum bahwa tindakan antum telah menyebabkan ana tidak lagi berada di jalan-Nya? Ada riya’, ada su’udzhan, ada takabur, ada kemarahan, ada kebencian, itukah jalan yang antum bukakan untuk ana, jalan neraka? –‘Afwan.

Akhifillah,
Surat ini seolah menempatkan antum sebagai tertuduh. Ana sama sekali tidak bermaksud demikian. Kalau antum ingin cara seperti itu, silakan. Afwan, tapi bukan ana orangnya. Jangan antum kira kecantikan lahir telah menjadikan ana merasa memiliki segalanya. Justru sebaliknya, kini ana merasa iri pada saudari saya. Ia begitu sederhana. Tapi akhlaknya bak lantera yang menerangi langkah-langkahnya. Ia jauh dari fitnah. Sementara itu, apa yang ana punyai sangat jauh nilainya. Ana bimbang apabila suatu saat ia berhasil mendapatkan Abdullah Azzam impiannya, sedangkan saya tidak.

Akhifillah,
‘Afwan kalau ana menimbulkan fitnah bagi antum. Insya Allah ana akan lebih memperbaiki diri. Mungkin semua ini sebagai peringatan Allah bahawa masih banyak amalan ana yang riya’ maupun tidak ikhlas. Wallahua’lam. Simpan saja cinta antum untuk istri yang telah dipilihkan Allah. Penuhilah impian ratusan akhawat, ribuan ummat yang mendambakan Abdullah Azzam dan Izzuddin al-Qassam yang lain. Penuhilah harapan Islam yang ingin generasi tangguh seperti Imaad Aql. Insya Allah antum akan mendapat pasangan yang bakal membawa hingga ke pintu jannah.

Akhifillah,
Malam bertambah-dan bertambah larut. Mari kita shalat malam dan memandikan wajah serta mata kita dengan air mata. Mari kita sucikan hati dengan taubat nasuha. Pesan ana, siapkan diri antum menjadi mujahid. Insya Allah, akan ada ratusan Asma dan Aisyah yang akan menyambut uluran tangan antum untuk berjihad bersama-sama.

Yang terakhir, akhi, saudara seaqidah ana, ana sertakan bingkisan indah sebuah syair karya pujangga besar Muhammad Iqbal. Semoga menjadi renungan kita bersama untuk lebih meningkatkan ketaqwaan dan keimanan.

***

IDEALNYA SEORANG PEMUDA

Ia peribadi yang muslim,
Berhati emas, Berpotensi prima,
Yang di kala damai
Anggun petaka kijang dari padang perburuan
Yang di kala perang
Perkasa bak harimau kumbang

Ia perpaduan manis empedu
Satu kali dengan kawan
Lain kali dengan lawan
Yang lembut dalam berbahasa
Yang teguh membawa suluh
Angannya sederhana

Citanya mulia
Tinggi keutamaan dalam hati-hati
Tinggi budi, rendah hati

Ia lah sutera halus di tengah sahabat tulus
Ia lah baja
Ditentangnya musuh durhaka

Ia ibarat gerimis atau embun tiris
Yang memekarkan bunga-bunga
Yang melambaikan tangkai-tangkai

Ia juga puting beliung
Yang melemparkan ombak menggunung
Yang menggoncangkan laut ke relung-relung

Ia lah gemercik air ditaman sari, asri
Ia juga penumbang segala belantara
Segala sahara

Ia lah pertautan agung iman Abu Bakar
Perkasa Ali Papa Abu Dzar Teguhnya Salman
Mendirinya di tengah massa yang bergoyang
Ibarat lentera ulama di tengah gulita sahara

Ia pilih syahid fisabilillah atas segala kerusi dan upeti
Ia manuju bintang Menggapai malaikat
Ia tentang tindak kuffar Pola aniaya di mana saja
Maka nilainya pun membumbung tinggi
Harganya semakin tak terperi
Maka siapakah yang akan sanggup membelinya
Kecuali Rabb-nya?

***

WaLLAHu a'lam bishawab, Wassalamu'alaikum warahmatuLLAHI wabarakatuh. sembilanpustaka
~o0o~ sembilanpustaka ~o0o~
READMORE