Rute Marathon Puasa (2of4)

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM... Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, (CATATAN : JANGAN DIBACA PADA SAAT ADZAN DI MESJID SEDANG BERKUMANDANG)

Bila sebelumnya telah kita bahas mengenai Puasa Rajab, maka dalam kesempatan ini akan kita bahas mengenai puasa Sya'ban.
Sya’ban adalah nama bulan. Dinamakan Sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan tersebut yatasya’abun (berpencar) untuk mencari sumber air. Dikatakan demikian juga karena mereka tasya’ub (berpisah-pisah/terpencar) di gua-gua. Dan dikatakan sebagai bulan Sya’ban juga karena bulan tersebut sya’aba (muncul) di antara dua bulan Rajab dan Ramadhan. Jamaknya adalah Sya’abanaat dan Sya’aabiin.

Puasa Sya'ban
Bulan Sya'ban adalah bulan di saat Nabi Muhammad saw melakukan puasa sunnahnya yang terbanyak. Di bulan-bulan lain, Nabi tidak melakukan puasa (sunnah) sebanyak di bulan Sya'ban. Namun tak ada kejelasan, tepatnya berapa hari yang disunnahkan berpuasa.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: "Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sampai kami katakan beliau tidak pernah berbuka. Dan beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak pernah berpuasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban." (HR. Bukhari/1833, Muslim/1956)

Sebagian ulama di antaranya Ibnul Mubarak dan selainnya telah merajihkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tidak pernah penyempurnakan puasa bulan Sya’ban akan tetapi beliau banyak berpuasa di dalamnya. Pendapat ini didukung dengan riwayat pada Shahih Muslim No. 1954 dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata: “Saya tidak mengetahui beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan.” Dan dalam riwayat Muslim juga No. 1955 dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: ” Saya tidak pernah melihatnya puasa satu bulan penuh semenjak beliau menetap di Madinah kecuali bulan Ramadhan.” Dan dalam Shahihain dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa asatu bulan penuh selain Ramadhan.” (HR. Bukhari No. 1971 dan Muslim No.1157). Dan Ibnu Abbas membenci untuk berpuasa satu bulan penuh selain Ramadhan. Berkata Ibnu Hajar: Shaum beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam pada bulan Sya’ban sebagai puasa sunnah lebih banyak dari pada puasanya di selain bulan Sya’ban. Dan beliau puasa untuk mengagungkan bulan Sya’ban.

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: “Saya berkata: “Ya Rasulullah, saya tidak pernah melihatmu berpuasa dalam satu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti puasanmu di bulan Sya’ban.” Maka beliau bersabda: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan. Dan merupakan bulan yang di dalamnya diangkat amalan-amalan kepada rabbul ‘alamin. Dan saya suka untuk diangkat amalan saya sedangkan saya dalam keadaan berpuasa.” (HR. Nasa’i, lihat Shahih Targhib wat Tarhib hlm. 425). Dan dalam sebuah riwayat dari Abu Dawud No. 2076, dia berkata: “Bulan yang paling dicintai Rasulullah untuk berpuasa padanya adalah Sya’ban kemudian beliau sambung dengan Ramadhan.” Dishahihkan oleh Al-Albani, lihat Shahih Sunan Abi Dawud 2/461.

Berkata Ibnu Rajab: Puasa bulan Sya’ban lebih utama dari puasa pada bulan haram. Dan amalan sunah yang paling utama adalah yang dekat dengan Ramadhan sebelum dan sesudahnya. Kedudukan puasa Sya’ban diantara puasa yang lain sama dengan kedudukan shalat sunah rawatib terhadap shalat fardhu sebelum dan sesudahnya, yakni sebagai penyempurna kekurangan pada yang wajib. Demikian pula puasa sebelum dan sesudah Ramadhan. Maka oleh karena sunah-sunah rawatib lebih utama dari sunah muthlaq dalam shalat maka demikian juga puasa sebelum dan sesudah Ramadhan lebih utama dari puasa yang jauh darinya.

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam: “Sya’ban bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan”, menunjukkan bahwa ketika bulan ini diapit oleh dua bulan yang agung -bulan haram dan bulan puasa- manusia sibuk dengan kedua bulan tersebut sehingga lalai dari bulan Sya’ban. Dan banyak di antara manusia mengganggap bahwa puasa Rajab lebih utama dari puasa Sya’ban karena Rajab merupakan bulan haram, padahal tidak demikian. Dalam hadits tadi terdapat isyarat pula bahwa sebagian yang telah masyhur keutamaannya baik itu waktu, tempat ataupun orang bisa jadi yang selainnya lebih utama darinya.

Dalam hadits itu pula terdapat dalil disunahkannya menghidupkan waktu-waktu yang manusia lalai darinya dengan ketaatan. Sebagaimana sebagian salaf, mereka menyukai menghidupkan antara Maghrib dan ‘Isya dengan shalat dan mereka mengatakan saat itu adalah waktu lalainya manusia. Dan yang seperti ini di antaranya disukainya dzikir kepada Allah ta’ala di pasar karena itu merupakan dzikir di tempat kelalaian di antara orang-orang yang lalai. Dan menghidupkan waktu-waktu yang manusia lalai darinya dengan ketaatan punya beberapa faedah, di antaranya:
Menjadikan amalan yang dilakukan tersembunyi. Dan menyembunyikan serta merahasiakan amalan sunah adalah lebih utama, terlebih-lebih puasa karena merupakan rahasia antara hamba dengan rabbnya. Oleh karena itu maka dikatakan bahwa padanya tidak ada riya’. Sebagian salaf mereka berpuasa bertahun-tahun tetapi tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Mereka keluar dari rumahnya menuju pasar dengan membekal dua potong roti kemudian keduanya disedekahkan dan dia sendiri berpuasa. Maka keluarganya mengira bahwa dia telah memakannya dan orang-orang di pasar menyangka bahwa dia telah memakannya di rumahnya. Dan salaf menyukai untuk menampakkan hal-hal yang bisa menyembunyikan puasanya.

Dari Ibnu Mas’ud dia berkata: “Jika kalian akan berpuasa maka berminyaklah (memoles bibirnya dengan minyak agar tidak terkesan sedang berpuasa).” Berkata Qatadah: “Disunahkan bagi orang yang berpuasa untuk berminyak sampai hilang darinya kesan sedang berpuasa.”

Demikian juga bahwa amalan shalih pada waktu lalai itu lebih berat bagi jiwa. Dan di antara sebab keutamaan suatu amalan adalah kesulitannya/beratnya terhadap jiwa karena amalan apabila banyak orang yang melakukannya maka akan menjadi mudah, dan apabila banyak yang melalaikannya akan menjadi berat bagi orang yang terjaga. Dalam shahih Muslim No. 2948 dari hadits Ma’qal bin Yassar: “Ibadah ketika harj sepeti hijarah kepadaku.” Yakni ketika terjadinya fitnah, karena manusia mengikuti hawa nafsunya sehingga orang yang berpegang teguh akan melaksanakan amalan dengan sulit/berat.

Ahli ilmu telah berselisih pendapat tentang sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam banyak berpuasa di bulan Sya’ban ke dalam beberapa perkataan:

1. Beliau disibukkan dari puasa tiga hari setiap bulan karena safar atau hal lainnya. Maka beliau mengumpulkannya dan mengqadha’nya (menunaikannya) pada bulan Sya’ban. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam apabila mengamalkan suatu amalan sunah maka beliau menetapkannya dan apabila terlewat maka beliau mengqadha’nya.

2.Dikatakan bahwa istri-istri beliau membayar hutang puasa Ramadhannya pada bulan Sya’ban sehingga beliaupun ikut berpuasa karenanya. Dan ini berkebalikan dengan apa yang datang dari ‘Aisyah bahwa dia mengakhirkan untuk membayar hutang puasanya sampai bulan Sya’ban karena sibuk (melayani) Rasulullah.

3.Dan dikatakan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa karena pada bulan itu manusia lalai darinya. Dan pendapat ini yang lebih kuat karena adanya hadits Usamah yang telah disebutkan tadi yang tercantum di dalamnya: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan.” (HR. Nasa’i. Lihat Shahihut Targhib wat Tarhib hlm. 425).

Dan adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam apabila masuk bulan Sya’ban sementara masih tersisa puasa sunah yang belum dilakukannnya, maka beliau mengqadha’nya pada bulan tersebut sehingga sempurnalah puasa sunah beliau sebelum masuk Ramadhan -sebagaiman halnya apabila beliau terlewat sunah-sunah shalat atau shalat malam maka beliau mengqadha’nya-. Dengan demikian ‘Aisyah waktu itu mengumpulkan qadha’nya dengan puasa sunahnya beliau. Maka ‘Aisyah mengqadha’ apa yang wajib baginya dari bulan Ramadhan karena dia berbuka lantaran haid dan pada bulan-bulan lain dia sibuk (melayani) Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Maka wajib untuk diperhatikan dan sebagai peringatan bagi orang yang masih punya utang puasa Ramadhan sebelumnya untuk membayarnya sebelum masuk Ramadhan berikutnya. Dan tidak boleh mengakhirkan sampai setelah Ramadhan berikutnya kecuali karena dharurat, misalnya udzur yang terus berlanjut sampai dua Ramadhan. Maka barang siapa yang mampu untuk mengqadha’ sebelum Ramadhan tetapi tidak melakukannya maka wajib bagi dia di samping mengqadha’nya setelah bertaubat sebelumnya untuk memberi makan orang-orang miskin setiap hari, dan ini adala perkataannya Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad.

Demikian juga termasuk faedah dari puasa di bulan Sya’ban adalah bahwa puasa ini merupakan latihan untuk puasa Ramadhan agar tidak mengalami kesulitan dan berat pada saatnya nanti. Bahkan akan terbiasa sehingga bisa memasuki Ramadhan dalam keadaan kuat dan bersemangat.

Dan oleh karena Sya’ban itu merupakan pendahuluan bagi Ramadhan maka di sana ada pula amalan-amalan yang ada pada bulan Ramadhan seperti puasa, membaca Al-Qur’an, dan shadaqah. Berkata Salamah bin Suhail: “Telah dikatakan bahwa bulan Sya’ban itu merupakan bulannya para qurra’ (pembaca Al-Qur’an).” Dan adalah Habib bin Abi Tsabit apabila masuk bulan Sya’ban dia berkata: “Inilah bulannya para qurra’.” Dan ‘Amr bin Qais Al-Mula’i apabila masuk bulan Sya’ban dia menutup tokonya dan meluangkan waktu (khusus) untuk membaca Al-Qur’an.

Hanya perlu diketahui ada perbedaan pendapat, antara yang memakruhkan puasa pada paruh kedua (setelah tanggal 15) Sya'ban, ada yang tidak. Perbedaan ini terjadi dikarenakan adanya 2 hadis yang berbeda. Kelompok yang memakruhkan menggunakan hadis: "Tiada puasa setelah separuh dari Sya'ban hingga masuk Ramadan."

Sementara yang tidak memakruhkan mendasarkan pada beberapa hadis (di antaranya):
Diriwayatkan dari Umi Salmah: "Saya tak pernah melihat Rasulullah puasa dua bulan berturut-turut kecuali di bulan Sya'ban dan Ramadan." Dalam redaksi lain: "Tidak pernah Rasulullah melakukan puasa sunnah sebulan penuh kecuali di bulan Sya'ban." (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah). Dan dalam redaksinya Ibnu Majah: "Nabi pernah puasa (penuh) di bulan Sya'ban dan Ramadan."

Demikianlah perbedaan itu muncul. Perlu diketahui juga, ada ulama yang menganggap dhaif hadis yang memakruhkan puasa di paruh kedua Sya'ban. Karena ada hadis lain lagi yang melarang puasa sehari-dua hari sebelum Ramadan. Ini tujuannya untuk menghindari hari "syak" (hari yang mendekati Ramadan, belum diketahui dengan jelas kapan akhir Sya'ban dan awal Ramadan).

Puasa pada Akhir bulan Sya’ban

Telah tsabit dalam Shahihain dari ‘Imran bin Hushain bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda: “Apakah engkau berpuasa pada sarar (akhir) bulan ini?” Dia berkata: “Tidak.” Maka beliau bersabda: “Apabila engkau berbuka maka puasalah dua hari.” Dan dalam riwayat Bukhari: “Saya kira yang dimaksud adalah bulan Ramadhan.” Sementara dalam riwayat Muslim: “Apakah engkau puasa pada sarar (akhir) bulan Sya’ban?” (HR. Bukhari 4/200 dan Muslim No. 1161).

Telah terjadi ikhtilaf dalam penafsiran kata sarar dalam hadits ini, dan yang masyhur maknanya adalah akhir bulan. Dan dikatakan sararusy syahr dengan mengkasrahkan sin atau memfathahkannya dan memfathahkannya ini yang lebih benar. Akhir bulan dinamakn sarar karena istisrarnya bulan (yakni tersembunyinya bulan).

Apabila seseorang berkata, telah tsabit dalam Shahihain dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa salla, beliau bersabda: “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya kecuali orang yang terbiasa berpuasa maka puasalah.” (HR. Bukhari No. 1983 dan Muslim No. 1082), maka bagimana kita mengkompromikan hadits anjuran berpuasa (Hadits ‘Imran bin Hushain tadi) dengan hadits larangan ini?

Berkata kebanyakan ulama dan para pensyarah hadits: Sesungguhnya orang yang ditanya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ini telah diketahui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bahwa dia ini terbiasa berpuasa atau karena dia punya nadzar sehingga diperintahkan untuk membayarnya.

Dan dikatakan bahwa dalam masalah ini ada pendapat lain, dan ringkasnya bahwa puasa di akhir bulan Sya’ban ada pada tiga keadaan:

1. Berpuasa dengan niat puasa Ramadhan sebagai bentuk kehati-hatian barangkali sudah masuk bulan Ramadhan. Puasa seperti ini hukumnya haram.
2. Berpuasa dengan niat nadzar atau mengqadha’ Ramadhan yang lalu atau membayar kafarah atau yang lainnya. Jumhur ulama membolehkan yang demikian.
3. Berpuasa dengan niat puasa sunah biasa. Kelompok yang mengharuskan adanya pemisah antara Sya’ban dan Ramadhan dengan berbuka membenci hal yang demikian, di antaranya adalah Hasan Al-Bashri -meskipun sudah terbiasa berpuasa- akan tetapi Malik memberikan rukhsah (keringanan) bagi orang yang sudah terbiasa berpuasa. Asy-Syafi’i, Al-Auzai’, dan Ahmad serta selainnya memisahkan antara orang yang terbiasa dengan yang tidak.

Secara keseluruhan hadits Abu Hurairah tadilah yang digunakan oleh kebanyakan ulama. Yakni dibencinya mendahului Ramadhan dengan puasa sunah sehari atau dua hari bagi orang yang tidak punya kebiasaan berpuasa, dan tidak pula mendahuluinya dengan puasa pada bulan Sya’ban yang terus-menerus bersambung sampai akhir bulan.

Apabila seseorang berkata, kenapa puasa sebelum Ramadhan secara langsung ini dibenci (bagi orang-orang yang tidak punya kebiasaan berpuasa sebelumnya)? Jawabnya adalah karena dua hal:

Pertama: agar tidak menambah puasa Ramadhan pada waktu yang bukan termasuk Ramadhan, sebagaimana dilarangnya puasa pada hari raya karena alasan ini, sebagai langkah hati-hati/peringatan dari apa yang terjadi pada ahli kitab dengan puasa mereka yaitu mereka menambah-nambah puasa mereka berdasarkan pendapat dan hawa nafsu mereka. Atas dasar ini maka dilaranglah puasa pada yaumusy syak (hari yang diragukan). Berkata Umar: Barangsiapa yang berpuasa pada hari syak maka dia telah bermaksiat kepada Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Dan hari syak adalah hari yang diragukan padanya apakah termasuk Ramadhan atau bukan yang disebabkan karena adanya khabar tentang telah dilihatnya hilal Ramadhan tetapi khabar ini ditolak. Adapun yaumul ghaim (hari yang mendung sehingga tidak bisa dilihat apakah hilal sudah muncul atau belum maka di antara ulama ada yang menjadikannya sebagai hari syak dan terlarang berpuasaa padanya. Dan ini adalah perkataaan kebanyakan ulama.

Kedua: Membedakan antara puasa sunah dan wajib. Sesungguhnya membedakan antara fardlu dan sunah adalah disyariatkan. Oleh karenanya diharamkanlah puasa pada hari raya (untuk membedakan antara puasa Ramadhan yang wajib dengan puasa pada bulan Syawwal yang sunnah). Dan Rasulullah melarang untuk menyambung shalat wajib dengan dengan shalat sunah sampai dipisahkan oleh salam atau pembicaraan. Terlebih-lebih shalat sunah qabliyah Fajr (Shubuh) maka disyari’atkan untuk dipisahkan/dibedakan dengan shalat wajib. Karenanya disyariatkan untuk dilakukan di rumah serta berbaring-baring sesaat sesudahnya. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ketika melihat ada yang sedang shalat qabliyah kemudian qamat dikumandangkan, beliau berkata kepadanya: “Apakah shalat shubuh itu empat rakaat?” (HR. Bukhari No.663).

Barangkali sebagian orang yang jahil mengira bahwasanya berbuka (tidak berpuasa) sebelum Ramadhan dimaksudkan agar bisa memenuhi semua keinginan (memuaskan nafsu) dalam hal makanan sebelum datangnya larangan dengan puasa. Ini adalah salah/keliru dan merupakan kejahilan dari orang yang berparasangka seperti itu.

Kembali ke persoalan semula, boleh-tidaknya berpuasa sebulan penuh di bulan Sya'ban, pendapat yang membolehkan lebih cocok diikuti. Ini dengan alasan:
  1. Ada hadis yang menunjukkan bolehnya puasa Sya'ban sebulan penuh (seperti tersebut di atas).
  2. Bahwasanya larangan puasa sehari-dua hari sebelum Ramadan itu untuk menghindari keragua-raguan. Karena pada hari-hari itu sudah dekat awal Ramadan. Padahal puasa Ramadan itu harus jelas niatnya: niat puasa Ramadan.
  3. Masa sekarang ini tidak ada kesulitan lagi untuk mengetahui awal bulan (atau akhir bulan) karena kecanggihan teknologi.
Jadi pada aslinya puasa sebulan penuh di Sya'ban itu tetap disunnahkan. Kalaupun sehari-dua hari di akhir Sya'ban itu tidak diperbolehkan, itu karena untuk menghindari ketidakjelasan. Dengan demikian, jika sudah tahu kapan awal Ramadan, maka tidak apa-apa melakukan puasa sampai akhir Sya'ban.

Nantikan penjelasan selanjutnya mengenai Puasa Ramadhan. Semoga Allah mudahkan kita dalam menjalankan kewajiban.

WaLLAHu a'lam bishawab, Wassalamu'alaikum warahmatuLLAHI wabarakatuh. sembilanpustaka
~o0o~ sembilanpustaka ~o0o~
READMORE
 

Rute Marathon Puasa (1of4)

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM... Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, (CATATAN : JANGAN DIBACA PADA SAAT ADZAN DI MESJID SEDANG BERKUMANDANG)

Ramadhan sebentar lagi, tak ada salahnya jauh-jauh hari kita mempersiapkan diri. Diantaranya dengan pengetahuan mengenai puasa-puasa sunnah dan wajib. Lalu kenapa dipilihkan judul "Rute Marathon Puasa"? Karena pada pembahasan judul kali ini akan diangkat 4 bulan yang paling banyak diperbincangkan dalam berbagai diskusi ilmiah tentang puasa, yaitu bulan Rajab, Sya'ban, Ramadhan dan Syawal. Dipilih kata "marathon" karena berurutannya ke empat bulan ini. Satu-persatu mari kita bahas bersama puasa yang dilakukan di empat bulan ini.

Puasa Rajab
Sebagian orang banyak yang menganjurkan untuk memperbanyak puasa pada bulan Rajab. Ada pula yang menganjurkan untuk memprioritaskan untuk berpuasa di awal-awal bulan Rajab. Apakah betul anjuran seperti ini ada dasarnya?

Sebagian orang awam agak sedikit bingung dalam menyikapi situasi di atas, apakah di bulan Rajab memang diharuskan berpuasa sebulan penuh ataukah seperti apa? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa,

”Adapun mengkhususkan bulan Rajab dan Sya’ban untuk berpuasa pada seluruh harinya atau beri’tikaf pada waktu tersebut, maka tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat mengenai hal ini. Juga hal ini tidaklah dianjurkan oleh para ulama kaum muslimin. Bahkan yang terdapat dalam hadits yang shahih (riwayat Bukhari dan Muslim) dijelaskan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam biasa banyak berpuasa di bulan Sya’ban. Dan beliau dalam setahun tidaklah pernah banyak berpuasa dalam satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban, jika hal ini dibandingkan dengan bulan Ramadhan.”

Adapun melakukan puasa khusus di bulan Rajab, maka sebenarnya itu semua adalah berdasarkan hadits yang seluruhnya lemah (dho’if) bahkan maudhu’ (palsu). Para ulama tidaklah pernah menjadikan hadits-hadits ini sebagai sandaran. Bahkan hadits-hadits yang menjelaskan keutamaannya adalah hadits yang maudhu’ (palsu) dan dusta.”(Majmu’ Al Fatawa, 25/290-291)

Bahkan telah dicontohkan oleh para sahabat bahwa mereka melarang berpuasa pada seluruh hari bulan Rajab karena ditakutkan akan sama dengan puasa di bulan Ramadhan, sebagaimana hal ini pernah dicontohkan oleh ’Umar bin Khottob. Ketika bulan Rajab, ’Umar pernah memaksa seseorang untuk makan (tidak berpuasa), lalu beliau katakan,

لَا تُشَبِّهُوهُ بِرَمَضَانَ ”Janganlah engkau menyamakan puasa di bulan ini (bulan Rajab) dengan bulan Ramadhan.” (Riwayat ini dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa, 25/290 dan beliau mengatakannya shahih. Begitu pula riwayat ini dikatakan bahwa sanadnya shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)

Adapun perintah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam untuk berpuasa di bulan-bulan haram yaitu bulan Rajab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, maka ini adalah perintah untuk berpuasa pada empat bulan tersebut dan beliau tidak mengkhususkan untuk berpuasa pada bulan Rajab saja. (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 25/291)

Imam Ahmad mengatakan, Sebaiknya seseorang tidak berpuasa (pada bulan Rajab) satu atau dua hari.”

Imam Asy Syafi’i mengatakan, ”Aku tidak suka jika ada orang yang menjadikan menyempurnakan puasa satu bulan penuh sebagaimana puasa di bulan Ramadhan.”

Beliau berdalil dengan hadits ’Aisyah yaitu ’Aisyah tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh pada bulan-bulan lainnya sebagaimana beliau menyempurnakan berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan. (Latho-if Ma’arif, 215)

Ringkasnya, berpuasa penuh di bulan Rajab itu terlarang jika memenuhi tiga point berikut.

1. Jika dikhususkan berpuasa penuh pada bulan tersebut, tidak seperti bulan lainnya sehingga orang-orang awam dapat menganggapnya sama seperti puasa Ramadhan.
2. Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut adalah puasa yang dikhususkan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sebagaimana sunnah rawatib (sunnah yang mengiringi amalan yang wajib yaitu amalan puasa Ramadhan).
3. Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut memiliki keutamaan pahala yang lebih dari puasa di bulan-bulan lainnya. (Lihat Al Hawadits wal Bida’, hal. 130-131. Dinukil dari Al Bida’ Al Hawliyah, 235-236)

Kesimpulan: Tidak ada yang istimewa dengan puasa di bulan Rajab kecuali jika berpuasanya karena bulan Rajab adalah di antara bulan-bulan haram, namun tidak ada keistimewaan bulan Rajab dari bulan haram lainnya. Yang tercela sekali adalah jika puasanya sebulan penuh di bulan Rajab sama halnya dengan bulan Ramadhan atau menganggap puasa bulan Rajab lebih istimewa dari bulan lainnya. Juga tidak ada pengkhususan berpuasa pada hari tertentu atau tanggal tertentu di bulan Rajab sebagaimana yang diyakini sebagian orang.

Jika memiliki kebiasaan puasa Senin-Kamis, puasa Daud atau puasa ayyamul biid, maka tetap rutinkanlah di bulan Rajab. Semoga Allah beri taufik untuk tetap beramal sholih.

Nantikan penjelasan selanjutnya mengenai Puasa Sya'ban. Semoga Allah mudahkan kita dalam menjalankan kewajiban.

WaLLAHu a'lam bishawab, Wassalamu'alaikum warahmatuLLAHI wabarakatuh. sembilanpustaka
~o0o~ sembilanpustaka ~o0o~
READMORE
 

Ketika Kisah Belajar Menata Hatinya

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM... Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, (CATATAN : JANGAN DIBACA PADA SAAT ADZAN DI MESJID SEDANG BERKUMANDANG)

Kisah dibawah ini sepenuhnya FIKTIF belaka. Mohon maaf bila ada kesamaan nama, lokasi, waktu, kejadian dan hal sekecil apapun yang mirip dengan pembaca, hal itu sudah pasti murni kesengajaan dari penulisnya... hehehe... v^_^'

*
Kisah cepat-cepat menundukkan pandangannya ketika dia lewat. Kisah bergegas menyingkir dari jalanan itu. Ber-istighfar berulang-ulang pada jantungnya yang berdegub gugup.

“Astaghfirullah,” Kisah mengulangi istighfarnya, berhenti sejenak, menyandarkan punggungnya di dinding Lab untuk menenangkan perasaannya, mencengkram erat-erat ujung jilbabnya. Kisah pun menggeleng keras, “Ini tidak boleh.”

“Lagi-lagi hanya orang itu, kenapa harus orang itu?“ Kisah menatap deretan arak-arakan awan di langit yang menampakkan matahari hampir tepat di atas langit fakultasnya, fajar sudah lama lewat, dan langit di atasnya sudah terang benderang. Dia tidak berharap arak-arakan awan di angkasa itu akan menjawabnya. Karena kuliah sebentar lagi di mulai.

**

Kisah pertama kali melihatnya saat registrasi mahasiswa baru, di tempat pengisian formulir. Orang itu meminjam tipeX-nya dan tidak pernah dikembalikan, mungkin sudah hilang, dan Kisah tidak pernah memintanya. Dua tahun yang lalu saat Kisah masih mahasiswa baru, pesona orang itu mulai menyita perhatian Kisah, hanya Kisah yang menyadarinya. Hanya Kisah yang menyadari kalau orang itu telah banyak menyita perhatiannya.

Orang itu selalu duduk di kursi paling depan, memperhatikan pemberi materi seminar dengan serius, sesekali dia mencatat sesuatu di blocknotenya, wajahnya teduh dan kharismatik, berjas almamater biru dan bersama rombongan berjas almamater seperti yang dipakai Kisah. Berarti sama-sama mahasiswa baru di fakultas yang sama. Kisah bertanya-tanya pada batinnya sendiri, dia mengambil jurusan apa, tapi pertanyaan itu Kisah telan sendiri, hanya untuk dirinya sendiri.

***

Sejak kecil, Kisah memang sangat menyukai fajar yang menyingsing. Matahari yang menyembul pelan-pelan di tepian langit. Setelah shalat subuh di mushola dekat rumah, dia dan teman-temannya duduk di pinggir sawah dekat surau, senang menunggui fajar berlalu sampai memunculkan matahari yang terang. Setelah puas, jam tujuh pagi Kisah kecil dan teman-temannya baru ke sekolah. Sampai sekarang, dia semester enam di perkuliahan, Kisah masih senang menunggui fajar sampai waktu shalat dhuha. Lalu berangkat kuliah.

Dia pernah ditanyai teman sekontrakannya tentang hobi uniknya ini, dia hanya tersenyum dan berkata, hobi masa kecil. Karena selepas tilawah usai shalat subuh, Kisah pasti bergegas menuju tempat jemuran kontrakan yang memiliki lubang besar untuk melihat langit. Disitulah kisah mengamati berlalunya fajar, hingga shalat dhuhanya.

****

Tiap kali ada seminar untuk mahasiswa baru, orang itu pasti ikut. Dia selalu duduk paling depan. Dengan wajah serius, tenang dan damai sangat antusias menyimak suara pemberi materi seminar. Kisah bukannya memperhatikan materi seminar, dia malah menulis deskripsi tentang orang itu di lembar blocknotenya.

Laki-laki dengan wajah damai paling terang sendiri di mata Kisah, paling beda sendiri di antara kumpulan mahasiswa baru lainnya. Laki-laki itu seolah sibuk dengan dunia dalam kepalanya. Dia tidak pernah menoleh kiri-kanan, matanya tajam dan fokus ke depan tapi, teduh.

“Ya, Mbak yang di pojokan bisa bantu saya?” seru Pemberi materi.

Kisah tersentak dari keasyikannya mencatat tentang orang itu.

“Hah, saya?” tanya Kisah memastikan.

“Ya, Anda.”

Dan Kisah pun menghentikan aktifitasnya dalam menuliskan deskripsinya tentang orang itu sesaat, beringsut perlahan ke depan menuju meja pemberi materi.

*****

Kisah adalah seorang akhwat yang bisa dibilang tangguh, karena sebagian besar waktunya habis untuk agenda-agenda dakwah. Dia sangat menjaga profesionalitas. Ibadahnya pun kuat. Di saat yang lain sibuk mengunyah sesuatu di hari Kamis, dia saat itu sedang Shaum. Di saat yang lain sedang nge-net di kesekretariatan, dia malah sedang Al-matsuratan di samping rak bacaan keputrian. Dan yang paling identik dengan Kisah adalah: dia punya hobi unik, menunggui fajar hingga shalat dhuha. Romantis juga ya. Saat seorang akhwat junior menanyakan kepadanya, ”Ukh, kenapa senang menunggui fajar hingga shalat dhuha?”

Kisah menjawab santai, ”Ukhty Shanti sayang, itu kebiasaan Kisah sejak kecil sama teman-teman sepermainan, gak tahu kenapa. Menunggu fajar membuat Kisah bisa memuhasabahi diri kali ya?”

Gak tahu ah, kan yang tahu alasannya kan Kisah, bukan aku.

V*

Pertanyaan sederhana tentang orang itu, seperti jurusannya dan hal-hal sederhana lainnya terjawab sendiri ketika Kisah tahu orang itu seorganisasi dengannya. Kisah jadi sering menangisi hatinya di tiap Dzikirnya. Apakah dia telah menduakan Rabbnya.

V**

Saat itu ada syuro membahas program acara salah satu departemen di organisasi, Kisah berargumen dan memberi masukan. Tapi setelah itu dia banyak diam. Terus diam sambil sesekali memurajaah hafalan surahnya, begitu terus sampai syuro berakhir.

V***

Orang itu melintas di depan mushala fakultas. Kisah baru saja selesai shalat dhuha. Kisah melihatnya. Ada yang menjalar di hatinya, Kisah diam, ”Apakah hatinya telah rusak?” batinnya.

V****

Di sekret, aku sedang menyelesaikan artikel untuk mading. Sedangkan Kisah sedang mengerjakan tugas kuliahnya di sampingku.

“Assalamu'alaikum.” Suara seorang ikhwan dari balik hijab.

“Wa'alaikum salam,” jawabku, sedangkan Kisah asyik dalam dunianya sendiri sambil sibuk menggaris-garis sesuatu di atas kalkir yang sama sekali tidak menarik bagiku.

“Ukhty, Kisahnya ada?” tanya Ikhwan itu.

Kisah diam saja, aku menoleh padanya. Dia gak denger ato gimana sih.

Aku mencolek lengan Kisah.

”Ukh, ada ikhwan yang nyari tuh,” bisikku.

“Tahu,” katanya datar.

“Trus?”

Dia menggeleng keras. Aneh, kamu kenapa Kisah?

Akhirnya aku yang berbicara dengan si Ikhwan.

”Ada keperluan apa, Akh? Nanti saya sampaikan ke Ukhty Kisah.”

Ternyata si ikhwan yang bertugas membuat Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) bermaksud menanyakan LPJan dari Sie yang diamanahkan pada Kisah.

X

Dari jauh, orang itu terlihat, berjalan dengan tenang. Kisah buru-buru menyingkir, memutar jalan, mencari jalan lain dengan maksud agar tidak berpapasan dengannya.

X*

Esoknya, Kisah menitipkan LPJ-an-nya ke aku.

“Ukhty Shanti, bisa minta tolong?”

“Apa?”

“Tolong berikan LPJ-an ini ke Akhi Fajar.”

“Kenapa gak kamu sendiri aja?”

Kisah menggeleng keras, wajahnya datar.

”Gak bisa.”

“Kamu ada urusan lain? Ato gimana?”


Kisah menggeleng keras lagi.

”Pokoknya gak bisa”, kata Kisah sambil berlalu begitu saja.

X**

Kisah tidak berani masuk sekret, orang itu lalu-lalang di sekitar sekret. Sebentar lagi, ROHIS fakultas akan mengadakan acara besar, sehingga kesibukan akan sering tampak di sekitar sekret. Kisah menangis, menangisi hatinya yang mungkin telah rusak. Menangisi apakah cinta Allah masih pantas untuknya, sedangkan tiap kali orang itu melintas, hatinya tak kuat menahan perih karena mencintai orang itu diam-diam. Kisah beristighfar berkali-kali.

X***

Orang-orang memanggilnya Kisah, lengkapnya Markisah Syahrani. Sekarang semester enam di Fakultas teknik, sefakultas denganku. Cuma beda jurusan, juga beda angkatan. Gadis manis berjilbab yang jilbabnya melebar seiring bertambahnya pemahamannya tentang aurat wanita dalam Islam. Aktif organisasi. Gadis yang aktif di rohis saat SMA, dan kini dia sama-sama denganku di organisasi keislaman fakultas. Suatu hari hari gadis ini datang padaku dengan terisak, air matanya mengalir. Dia menangis tanpa suara. Aku memeluk saudari seimanku ini, aku tidak berani memastikan tangisnya, aku menenangkanya, menyuruhnya beristighfar. Setelah isaknya sedikit reda dan dapat mengatur napas, kutanyai lembut, ”Ada apa, Ukhty?”

Dia kembali memelukku dan kembali menangis, dan dengan terbata-bata, ”Aku mencintainya, Ukhty, apa hatiku telah rusak.”

Aku biarkan dia menangis dalam pelukanku.

“Fajar, Ukhty. Fajar. Aku tidak bisa menunggui fajar menyingsing dan terangnya matahari lagi, tidak bisa Ukhty,” Kisah sesenggukan.

“Kau tahu? Karena kebiasaanku masa kecilku itu malah makin mengingatkan aku padanya, kenapa bisa kebetulan, Fajar.” Kisah terkoyak, seolah seluruh jiwanya menangis.

Aku turut tenggelam dalam tangis. Kisah makin tergugu.

“Kisah mencintai Fajar, Ukhty. Hati ini mungkin telah rusak, bantu Kisah untuk menatanya kembali.”

Itulah fitrah, tapi ah, hatimu pasti perih saudariku.

X****

Sejak saat itu, Kisah tidak pernah sekalipun berpartner dengan Fajar, tidak pernah sekalipun berinteraksi dengan ikhwan ini. Satu-satunya ikhwan yang tidak ada dalam phonebook HP Kisah. Fajar juga bukan tipe ikhwan yang menonjol seperti halnya Fatih, Bangun, ataupun Razak atau seperti Akhi Zumar, Dimas, Imam yang aktif di BEM dan Himpunan. Fajar adalah ikhwan yang biasa-biasa saja. Bersahaja, pembawaannya tenang namun ulet dan amanah, tipe orang di balik layar. Dia luput dari pengamatan siapa saja jika berada di tengah potensi ikhwan-ikhwan yang lain. Tapi tidak bagi Kisah, Fajar tidak pernah luput, dari awal, sejak dia dan Kisah sama-sama masuk universitas.

Kisah menyibukkan diri di banyak amanah, memperbanyak dzikir, meningkatkan kualitas ibadahnya. Dia berharap dia tidak menunggui Fajar lagi. Tidak ada lagi melihat fajar menyingsing seusai subuh.

Kisah dan Fajar-nya, ketika Kisah mulai belajar menata hati. (kolomkita, dengan sedikit perubahan)

*daftar istilah:

Syuro = rapat
Hijab = pembatas

WaLLAHu a'lam bishawab, Wassalamu'alaikum warahmatuLLAHI wabarakatuh. sembilanpustaka
~o0o~ sembilanpustaka ~o0o~
READMORE
 

17 Ciri Calon Suami yang Baik

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM... Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, (CATATAN : JANGAN DIBACA PADA SAAT ADZAN DI MESJID SEDANG BERKUMANDANG)

Semua orang pasti memiliki kriteria idaman, baik laki-laki atau perempuan. Tiap perempuan memiliki kriteria sendiri mengenai lelaki idaman, begitu pula sebaliknya. Lalu, bagaimana dengan anda? Apakah pasangan anda memiliki beberapa poin di bawah ini? Bila iya berarti DIA adalah (calon) pendamping yang baik.

1. Selalu Bersemangat
Dia selalu bangun bersamaan dengan terbitnya matahari, senantiasa bersemangat untuk menyambut hari baru, terkadang bersenandung (meskipun perlahan) saat mengendalikan laju mobil/motor menuju tempat bekerja? Lelaki yang penuh keriangan di pagi hari dapat diartikan siap menghadapi kesulitan hidup. Dengan berbekal rasa syukur dan semangat hidupnya yang tinggi, segala masalah yang mungkin muncul dalam pernikahan nanti pasti bisa diatasi bersama. Mungkin Dia adalah lelaki pilihan untuk anda.

2. Tak Pelit Untuk Bilang Cinta
Apakah dia selalu mengatakan dan menunjukkan rasa sayang pada Anda setiap hari meski lewat momen kecil? Menurut penelitian, menyatakan rasa sayang secara teratur merupakan hal terpenting yang mendatangkan kepuasan dalam sebuah perkawinan. Jika saat ini Anda memiliki kekasih seperti itu, Anda sudah mendapat pasangan yang baik. Mungkin Dia adalah lelaki pilihan untuk anda.

3. Dapat Diandalkan
Dia akan berusaha menepati janji yang pernah diucapkannya, datang ke pertemuan tepat waktu, memenuhi tanggung jawab dan kewajibannya dengan senang hati tanpa memperlihatkan rasa keberatan ataupun terpaksa sedikitpun. Apa yang ia katakan akan sama dengan yang dia maksudkan. Persiapkanlah diri Anda menjalani kehidupan yang menyenangkan bersama lelaki ini. Mungkin Dia adalah lelaki pilihan untuk anda.

4. Gemar Bermain
Hidup ini pasti akan terasa lebih menyenangkan jika dilalui bersama lelaki yang tahu bagaimana menghabiskan waktu senggang. Dia tak hanya bisa mencari kegiatan selain nonton televisi, tapi juga bisa meninggalkan ponsel dan laptop saat liburan bersama Anda. Mungkin Dia adalah lelaki pilihan untuk anda.

5. Calon Ayah Yang Baik
Perhatikan, apakah dia punya perhatian besar pada anak-anak? Mau membantu mengasuh anak? Dan menurutnya anak-anak sangat lucu dan menakjubkan? Bahkan dia sudah berpikir menyiapkan tabungan untuk keperluan anaknya nanti? Bila jawaban anda untuk semua pertanyaan di atas adalah IYA, Anda boleh menikahi lelaki ini karena besar kemungkinan Dia adalah calon seorang ayah yang baik. Mungkin Dia adalah lelaki pilihan untuk anda.

6. Punya (Cukup) Selera Humor
Dia senang tertawa bersama Anda (tapi bukan untuk menertawakan Anda). Dia juga tahu bahwa menertawakan orang lain itu tidak lucu. Dia juga tahu bagaimana memandang sisi terang dari sesuatu. Lelaki periang ini baik untuk Anda. Mungkin Dia adalah lelaki pilihan untuk anda.

7. Bertanggung Jawab
Dia menikmati pekerjaannya dan berusaha mengerjakannya dengan baik. Dia siap untuk menjalankan proyek baru, lengkap beserta tantangannya. Dia berbagi semangat kerja dengan Anda dan berusaha mengatasi kejenuhannya. Lelaki seperti ini tak hanya mencari nafkah lho. Dia memang senang bekerja dan bertanggung jawab. Mungkin Dia adalah lelaki pilihan untuk anda.

8. Mau Bekerja Sama
Apakah dia peduli bahwa beban dalam sebuah hubungan harus dibagi adil? Dia juga mau menyingsingkan lengan baju tanpa diminta? Jika dia mau melakukan pekerjaan meski sangat sepele, pasti menyenangkan dapat mendampingi lelaki ini. Mungkin Dia adalah lelaki pilihan untuk anda.

10. Satu Visi
Anda ingin punya apartemen di tengah kota, city car, dan satu anak saja, dia setuju. Atau anda ingin cukup hanya memiliki pondokan sederhana di pinggiran kota dengan suasana pedesaan yang masih alami, dia juga setuju. Artinya dia juga ingin menjalani gaya hidup seperti Anda. Meski ini masalah kesepakatan, apa pun impian Anda, bagilah dengannya. Jika dia punya visi yang sama dengan Anda, jangan ragu untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya. Mungkin Dia adalah lelaki pilihan untuk anda.

11. Take Care Him Self (Mandiri)
Dia tak hanya peduli pada kerapian dan keserasian berpakaian. Namun, dia juga peduli pada kesehatan dengan menjaga makanan, meluangkan waktu berolahraga dan cukup tidur. Kalaupun minum alkohol dan merokok, dia tahu batas. Percaya atau tidak, dia akan berada di sisi Anda untuk waktu lama. Mungkin Dia adalah lelaki pilihan untuk anda.

12. Tidak Segan Meminta Maaf
Dia tidak pernah segan untuk meminta maaf bila telah berbuat salah atau menyakiti perasaan Anda, berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, dan belajar dari kesalahan itu sehingga hubungan Anda dan dia berkembang baik. Dia juga mengerti bahwa dengan mengatakan ‘maaf’ tidak akan mengurangi kejantanannya. He’s a gentleman, right?. Mungkin Dia adalah lelaki pilihan untuk anda.

13. Tipe Romantis
Lelaki ini memang agak sulit ditemukan. Setidaknya jika dia selalu ingat kapan ulang tahun Anda, senang mengajak Anda berjalan di bawah cahaya bulan, memilih hadiah ulang tahun yang tepat, mengirim SMS ataupun email berisi puisi indah (meski hanya forward), dan membuat Anda bahagia sebagai perempuan. Mungkin Dia adalah lelaki pilihan untuk anda.

14. Tidak Terlalu Menyukai Sesuatu Secara Berlebihan
Seperti halnya Anda sekarang ini. Hanya karena terlalu antusiasnya Anda membaca tulisan ini, Anda bahkan tidak sadar telah melewatkan poin nomer 9. Memang benar tidak ada poin 9. Poin ini hanya ingin mengingatkan kepada anda bahwa bagaimanapun antusiasnya anda mencara pasangan idaman, tetap anda harus memperhatikan sekeliling anda. Mungkin sekarang ini belum saatnya anda bertemu dengan sang pasangan idaman. Tetapi bukan berarti Anda akan melewatkan hal-hal menarik yang ada di sekitar anda bukan? :)

15. Memiliki Etika
Dalam bersikap, dia tidak tergesa-gesa dan selalu mempertimbangkan perasaan orang lain. Dia berusaha mematuhi hukum yang berlaku dan tidak mencurangi aturan main meski bermain sendiri. Mungkin tidak ada lelaki yang lebih baik dari lelaki etis ini. Mungkin Dia adalah lelaki pilihan untuk anda.

16. Saling Menghormati Privasi
Memiliki kehidupan sendiri membuatnya merasa tidak perlu memiliki Anda setiap saat. Dia akan mengerti dan tak keberatan bila Anda meminta waktu untuk berkumpul dengan teman-teman Anda. Dia juga mengerti untuk meninggalkan ruangan ketika Anda bicara dengan sahabat atau ibu di telepon. Dia juga tidak pernah secara rutin memeriksa handphone anda hanya untuk melihat log panggilan telepon ataupun inbox anda. Dia akan sangat menghormati privasi Anda. Dengan demikian tanpa perlu diminta, hendaknya Anda juga memperlakukan hal yang sama. Mungkin Dia adalah lelaki pilihan untuk anda.

17. Sangat Perhatian
Tipis sekali batasan antara Sangat Perhatian dan Over Protective. Memang tak ada standar kuantitatif yang pasti untuk mengukur seberapa baik dan perhatian seseorang. Namun, jika Anda merasa dicinta dan diperhatikan, saat sedang bersamanya Anda akan merasa luar biasa baik secara fisik ataupun emosional serta adanya rasa damai saat di sisinya, itu menandakan bahwa Anda sudah menemukan orang yang tepat.

Jika memang hingga saat ini Anda belum menemukannya, jangan menyerah. Percayalah, Dia pasti ada di suatu tempat di luar sana, menunggu Anda.

[nb] Poin nomer 0 adalah AGAMA-nya. Kenapa ber-angka 0 (NOL)? Karena poin ini adalah poin tertinggi yang MUTLAK terpenuhi untuk mendapat perhitungan dari poin lain sebagaimana tersebut di atas. Bagaimana Anda bisa yakin semua poin di atas Dia miliki bila anda tidak mengetahui bagaimana AGAMA-nya? Akankah lelaki seperti itu pilihan Anda? Bila anda memang mendambakan pasangan yang terbaik, mulai sekarang benahilah diri terlebih dahulu. Karena ALLAH tidak pernah mengingkari janjinya.

"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)." (QS. An Nuur [24]:26)

WaLLAHu a'lam bishawab, Wassalamu'alaikum warahmatuLLAHI wabarakatuh. sembilanpustaka
~o0o~ sembilanpustaka ~o0o~
READMORE
 

Aku Ingin Memanggilmu Akhi

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM... Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, (CATATAN : JANGAN DIBACA PADA SAAT ADZAN DI MESJID SEDANG BERKUMANDANG)

“Aku ingin memanggilmu akhi, Gus...”

“Memangnya kenapa? memangnya ada yang salah kalau cuma memanggil namaku hanya dengan "Agus"? Itu memang nama pemberian dari orangtuaku sejak aku lahir. Lalu kenapa kamu bilang aku ini futur? apa itu futur? Apa definisimu mengenai kata futur? Semudah itukah engkau memberikan status futur kepada orang lain? What is it? Atau lebih tepatnya what is shit! Jangan-jangan engkau tak tahu apa-apa tentang apa itu futur.”

“Hei! Istighfar Gus, kenapa kamu jadi emosi begini?”

“Aku tidak emosi, Dhi. Kenapa memangnya?! Ada yang salah dengan itu? Apa karena aku tidak lagi memelihara jenggotku? Tidak lagi memanggilmu akhi, antum? Jarang bergaul dengan para ikhwah di masjid? Lalu apa mau kamu sekarang? Mengagungkan simbol-simbol? Fanatik, begitu?”

“Tapi tak sesederhana itu persoalannya, Gus”

“Oh ya, terus apa lagi? Keikhlasan? Istiqomah? Loyalitas dakwah? Apa lagi? Atau hanya karena banyak yang bilang aku sekarang pacaran dengan Reina? Aku juga tidak pernah tahu pacaran itu apa, tapi boleh kukatakan sesuatu? Reina memang pantas dijadikan seorang calon istri idaman. Menurutku dia wanita yang sempurna!”

“Astaghfirullah…, Gus! Istighfar...!”

“Ya! Mungkin hanya itu yang mampu kau ucapkan, Dhi. Kau tidak tahu bahwa segala persoalan tak akan selesai dengan hanya berucap ‘astaghfirullah’, dengan muka memelas mengasihaniku. Ohh…ho…ho… kamu ingin mendengar aku gemetar dan begitu saja ‘menyadari kesalahanku’ seolah-olah aku benar-benar bersalah, begitu? Maaf, tidak akan, Dhi! Itu mimpi. Yang aku tahu kamu sudah terlalu jauh mencampuri kehidupan pribadiku! Kita memang sahabat, tapi tetap ada pagar privasi kan diantara sahabat?”

“Udah, deh. Lama-lama aku capek, Dhi! Kamu lihat diri kamu sendiri. Banyak mata kuliah yang nggak lulus. Kamu pikirin itu nilai-nilai akademismu.”

“Kita bukannya kuliah di jurusan sosial yang diajarkan untuk memantau strata sosial orang lain. Kita ini mahasiswa informatika. Mestinya apa yang kita pikirkan itu tidak terlalu primitif! Rasional dikit napa sih. Jaman kita udah hi-tech, Dhi!”

“Iya, Gus. Coba dengerin ana dulu.”

“Harus dengar apalagi? Segala pertanyaan seputar kenapa aku nggak ngaji lagi? Kenapa aku nggak pernah kelihatan di masjid lagi? Sekarang gini, kamu ikut lomba desain web itu kan? Nah, kalau kamu bisa ngalahin aku, baru aku mau dengar kamu ‘ceramah’! Tapi aku yakin kamu nggak bakal bisa, karena apa? Karena kamu akan sibuk dengan ‘komunitas’-mu sendiri!”

Kututup segera percakapan lewat telepon selular itu setelah mengucap kata ‘wassalam’ tanpa menghiraukan ‘tausiyah’ Ardhi lebih panjang lagi.

Aku melangkah kembali masuk ke kamar kostku dengan langkah gontai dan kembali menekuri pekerjaanku, mendesai web pesanan client.

“Hai!” suara renyah dari arah pintu kamarku. Gadis itu mengagetkanku dengan kehadirannya yang tiba-tiba.

“Oh, kamu, Na,” jawabku setengah malas.

“Sedang apa A'?”

“Sepertinya?”

“Bikin web ya A'?” Reina menatap layar laptopku.

“Kalau sudah tahu kenapa tanya.”

“Suka banget sih A' pake flash?”

“Diam napa, sih? Berisik!”

“Dih, galak bener. Ntar aku dibikinin website juga ya A'? Yang ada pict profile-ku gitu.”

“Iya deh, ntar.”

“Aku bakalan masukin semua kegiatanku sehari-hari di situ. Terus orang-orang di luar sana bisa kenal siapa aku lewat About Me-nya. Eh, perlu nggak sih aku beli domain sendiri? Kurang oke kayaknya kalau upload pake domain gratisan. Lebih keren kan jadi namaaku dot kom gitu.”

“Idih, gayanya... dah kayak artis aja, Na.”

“Please, deh. Kamu ngapain, sih? Sewot bener hari ini.”

Kugaruk-garuk kepalaku yang tidak benar-benar gatal.

“Sorry, Na. Mood-ku lagi jelek. Mending kamu sekarang pulang, deh, ya. Aku harus selesein ini buat web design championship minggu depan. Okey, sayang? Biarkan aku berkonsentrasi penuh dan…, biar kamu kuantar pulang dulu aja kalau begitu.”

“Tapi kan aku baru saja datang ke kostmu. Baru aja masuk, masa sudah disuruh pulang lagi”

“Aku tahu, Na. Please, deh, ngerti ya… Bad mood ni.”

“Oke deh. Aku pulang. Tapi jangan lupa, besok jemput aku ke kampus ya A'.” Ups! Untung tanganku lincah bekerja sebelum Reina…

“Kenapa, sih A'? Cuma ciuman pipi aja napa. Ga boleh kah?”

“Jangan dulu, deh. Kita baru satu bulan jalan…”

Reina memandangku dengan muka ditekuk. Oh, apa aku telah berbuat kesalahan?

“Kamu membuat aku malu.”

“Sorry, aku…”

“Ya udah, A' ga usah ngantar pulang. Kelihatannya Aa' lagi sibuk gitu. Besok aku tunggu ya.”

“Thanks. Besok jangan lupa, In time.”

*******

Reina cantik. Menawan. Anggun. Putri kampus. Model lokal Bandung yang mulai naik daun di tingkat nasional. Dia lebih stylish dan modern daripada Nida. Hhmm… Ukhti Nida? Oh, aku sudah lupa.

“Jangan mengotori hati dengan hal-hal yang hanya menonjolkan nafsu saja, akhi. Kalau memang siap menikah, lebih baik disegerakan.”

“Maksud ente?” aku cukup terkejut dengan perkataan Ardhi waktu itu.

“Antum kelihatannya dekat sekali dengan ukhti Nida.”

“Oh, itu. Apa salahnya? Dia seorang desainer grafis dan ane butuh kerjasama dia untuk pembuatan website.”

“Ya, tapi kalau keseringan bisa menimbulkan fitnah.”

Fitnah?! Ya Tuhan, apalagi ini?

“Lantas? Ente minta ane untuk menikahinya? Wah! Itu tidak mungkin. Ane dah semester akhir. Tinggal dikit lagi lulus kuliah.”

“Itu bukan halangan.”

“Bukan halangan? Lantas bagaimana antum menyikapi kemapanan, kemandirian finansial? Karier?”

“Jangan berpikir terlalu rumit. Setiap orang memiliki rejekinya sendiri-sendiri.”

“Ini bukan berpikir rumit, tapi berpikir realistis!”

Padahal aku tidak memiliki perasaan apapun terhadap Nida. Ehm… Ya! Tentu saja aku tidak suka dia. Aku yakin itu. Tetapi kenapa mereka meributkan kebersamaanku dengan Nida? Oke, aku memang belum terlalu paham akan konsep kebersamaan laki-laki dan wanita. Aku memang baru beberapa waktu terakhir ini mengikrarkan diri untuk berada dalam barisan mereka. Barisan dakwah yang menurutku memang merupakan suatu kebutuhan religius. Tapi lama-lama kupikir aku telah terjebak dalam konsep yang sangat idealis ini. Aku bahkan tidak bisa mencerna lagi konsep-konsep yang tidak membumi.

Dilarang berduaan dengan wanita, dilarang ini, dilarang itu. Amal jama’i, loyalitas dakwah, istiqomah. Apanya yang salah jika hanya berkawan dengan seorang wanita? Apanya yang loyal? Apakah harus dengan aktif di organisasi-organisasi dan melupakan skripsi seperti banyak teman aktifis? Apakah harus hidup sederhana hingga mirip gembel tanpa mempedulikan penampilan jika memang ia bisa tampil alias mampu? Apakah harus dengan simbolisasi yang membuatku kelihatan tidak militan jika tidak memakai baju koko, topi muslim, dan celana cingkrang? Tidak islami jika aku tidak menyebut: akhi, ukhti, antum, syukron, afwan, ana, dan lainnya? Sesempit itukah pen-definisi-an kata-kata itu sekarang ini oleh mereka? Nah! Nah! Aku mulai mengungkit segalanya hanya karena masalah Nida!

Kemudian akhirnya tamat sudah. Nampak sekali Nida yang menjaga jarak denganku. Efek domino pun tak terelakkan, diikuti dengan aku yang tidak lagi aktif mendatangi kajian, tidak lagi mau peduli dengan segala macam syuro, dan tidak lagi peduli jika mereka tidak lagi mempedulikan aku aktif atau tidak dalam segala kegiatan dakwah. Aku yang kembali slengehan dengan style acak-acakan ala masa jahiliahku. Lalu? Ardhi hadir lagi dan mem-vonis diriku dengan status futur? Aku adalah ikhwan baru hijrah yang gagal istiqomah dan berguguran di jalan dakwah? Futur? What is shit!

*******

ID Luky menyala terang ketika aku online.

[Ferdy]Oi

[Gooffy]Woi, Gus

[Ferdy]Waatzup bro! Webmu ada masalah?

[Gooffy]Lu denger juga ya? Sekarang sembilanpustaka gue jadiin domain personal. Sudah gue beliin domain dot info. Jadinya sekarang bisa akses langsung lewat sembilanpustaka.info gitu... :P

[Ferdy]hehehe, idih, bangga apa kesel tuh...

[Gooffy]Siapa nggak kesel? Gue udah sukarela ngasih tumpangan, eh, masih bilang gue cari untung

[Gooffy]Jangan-jangan folder:\dipikir-dulu\nya udah pada dimasukin recycle bin, tuh!

[Gooffy]Brengsek!

[Gooffy]Biarin dah pada download data-data yang ada di hosting. Itu juga kalau belum overbandwith, dan account masih nyala.

[Ferdy]hahahaha

[Gooffy]Ketawa lagi! Brengsek lu. Emang mereka pada tau gimana supaya hosting, domain, dan subdomain mereka bisa tetep nyala?

[Ferdy]Suabarrrrr

[Gooffy]Huehuehue… Orang bijak bilang: sabar disayang Tuhan.

[Ferdy]Nah!

[Gooffy]Eh, lu ada temen namanya Ardhi?

[Ferdy]Ha? Iya. Kenapa? Kamu kenal?

[Gooffy]Canggih anaknya?

[Ferdy]Canggih? Hoho… Tunggu dulu.

[Gooffy]Kenapa?

[Ferdy]Dia nggak lebih hebat daripada aku. Dia mahasiswa IT yang nggak hi-tech sama sekali. Dia seperti nggak peduli tentang gelombang ketiga ini yang mengindikasikan bahwa pemilik pengetahuan adalah penentu kebijakan yang mengacu pada pemenuhan kebutuhan pengakuan dan aktualisasi diri.

[Gooffy]Sieeh… Uhui! Bahasa elu canggih amat cing.

[Ferdy]Baru juga aku "agak" deket sama cewek pinter saja dia ikut-ikutan sirik.

[Gooffy]Jadi masalahnya cuma karena rebutan cewek lu jadi BT gitu sama dia?

[Ferdy]Nggak sesederhana itu, Luk! Kamu pikir deh! Sub sistem sosial yang terwujud dalam masyarakat pekerja ilmu pengetahuan dan informasi, dengan struktur horisontal.

[Gooffy]Oh yeah?

[Ferdy]Juga dengan pola interaktif yang ada, apa salah kalau aku dekat dengan cewek itu? Dia jago grafis! Tujuanku cuma sharing aja.

[Gooffy]Bener cuma sharing? Lu kan laki, Gus? Lu ribut gitu, bener karena nggak suka tuh cewek atau cuma ngeles karena ego lu? JAIM gitu... :P

Ngeles? Hohoho… Aku… aku memang nggak suka sama Nida. Nggak mungkin aku suka! Nggak mungkin kan?! Ah, nggak mungkin!

[Ferdy]Terserah kamu bilang apa deh. Aku yakin, justru dia yang naksir Nida.

[Gooffy]Nida?

[Ferdy]Cewek yang aku bilang tadi tuh. Soalnya dia yang paling sewot kalau aku dekat sama tuh cewek.

[Gooffy]Hehehe. Itu bukan urusan gue.

[Gooffy]Eh, lu udah liat pengumuman lomba kemarin?

[Ferdy]Oh ya!

[Ferdy]Pengumumannya hari ini kan?

[Gooffy]Lu pasti pingsan kalau gue kasih tahu siapa yang menang.

[Ferdy]Oh ya?

[Ferdy]Who?

[Gooffy]Gue. :p

[Ferdy]Apa?! Gila! Kamu serius? :mad:


Tanganku segera bergerak mengakses internet explorer untuk membuka webmaster-group.co.id, penyelenggara lomba, dengan hati berdebar. Luky juara satu? Lantas desainku?


[Gooffy]Huehue. Emangnya cuma lu aja yang bisa jadi juara?

[Ferdy]Gue gak nyangka, deh. Hebat!


IE-ku masih berproses. Aduh, lambat banget! Tapi kalau Luky juara, sih, mungkin saja. Tapi…


[Ferdy]Selamat! Tapi untuk kompetisi selanjutnya aku bakal ngalahin kamu.

[Gooffy]Huuehue… Gue tunggu!

[Gooffy]Anak universitas lu yang lu bilang sirik, gak canggih, itu ikut juga ternyata.

[Ferdy]Gak bakal menang dia!

[Gooffy]Hihihi. Apa iya? yakin lu? Coba gih baca dulu pengumuman lombanya... B-)


Otakku masih berpikir. Gila! Si luky bisa melesat gitu. Padahal aku yakin aku bakal menang. Semua tahu aku satu-satunya webmaster Indonesia, mewakili institutku, yang menang dalam kompetisi IBM web design kemarin. Itu juga yang membuatku merasa punya masa depan karena setelah lulus aku dapat beasiswa S2 ke Jerman untuk IT.

Jadi kalau Luky sang juara, nasib desainku gimana, dong? Dianggap cupu begitu?

Aku segera melihat pengumuman Web Design Championship begitu homepage terbuka. Dan mataku terbelalak seketika!

ID Luky, teman cyber yang juga ikut lomba itu, berkedip-kedip.

[Gooffy]Sialnya lu cuma harapan satu. Wazz up? Lu jadi bego gini, sih.

Aku minimize layar chatting itu. Kualihkan lagi perhatianku pada pengumuman lomba. Otakku masih belum bisa mencerna dengan sempurna.

[Gooffy]Desain lu yang menang di IBM keren banget pas gue liat di PlanetWeB exhibition bulan lalu. Tapi kok yang ini bisa jelek gini?


Lemas sudah seluruh persendianku.


[Ferdy]Kamu dapat juara dua ya… Selamat.

[Gooffy]Hehehe… Sorry, gue becanda. Temen lu hebat juga ya.

[Ferdy]Aku cabut dulu.


Kumatikan ID-ku dan bergegas keluar kamar tanpa menunggu reaksi Luky.

“Heh? Ardhi?! Juara satu???”

“Eehhhh! Mau kemana A'?” tiba-tiba Reina muncul di depan kamarku.

“Aku harus pergi sekarang, Na. Aku ada urusan. Penting.”

“Tapi aku kan baru datang, A'.”

“Ya, tapi… Tapi aku ada urusan penting sekarang ini. Kamu masuk aja deh, tunggu di dalem kamar, atau pulang aja, atau… terserah kamu, deh!”

“Eehh..hh. Aa' apa-apaan, sih? Kok jadi aneh gini sih A'. Ada masalah apasih, coba cerita ke Nana. Kali aja Nana bisa bantu Aa'”

“Please, Na. Aduh, lepasin tangan kamu, dong!”

Reina mendelik.

“Kamu aneh banget, sih, A'?”

“Sorry. Aku bener-bener harus pergi, nih.”

Setengah berlari aku menuju garasi. Tak kuhiraukan lagi Reina yang berteriak-teriak memanggilku dari depan kamarku.

“Woi!! Kamu normal apa hombreng, sih, A'?! Kenapa kesentuh dikit aja selalu marah?”

Telingaku mendengar juga teriakannya. Aku? homo? Idihh, amit-amit, deh!

*******

“Selamat ya Dhi. Kamu menang kompetisi itu.”

“Syukron. Tapi mestinya antum gak perlu seperti ini.”

“Aku hanya mencoba sportif. Ternyata kamu bisa ngalahin aku juga.”

“Hadiah utamanya keren, sih. Lumayan deh buat nambah-nambah biaya nikah. Mungkin ALLAH ngasih rejekinya lewat sini.”

“Apa?! Nikah?” mataku terbelalak, menatap tak percaya.

“Ya.” Ardhi tersenyum. “Kok kaget gitu, sih? Biasa aja kenapa. Apa karena ana masih belum ngelarin tugas akhir?”

“Dengan siapa, Dhi?”

“Tebak deh! Mahasiswi sini juga. Akhwat fakultas seni rupa dan desain.”

“Nida???”

Ardhi tersenyum.

“Bukan lah.”

“Ohhh…”

Aku tertegun sejenak.

“Kalau begitu, selamat… lagi.”

Ardhi menjabat tanganku erat.

“Sekarang seperti janjiku dulu, kamu boleh ceramahi aku sepuasnya.”

Ardhi hanya tersenyum.

“Kenapa harus begini, sih?”

“Udah, mumpung aku kasih kamu kesempatan ceramah. Aku juga ga kepingin punya hutang janji sama orang.”

“Semua bukan untuk diperdebatkan dengan keliru, Gus. Jangan hanya melihat segalanya dalam satu sisi. Banyak kemuliaan yang ditawarkan Islam. Yang penting itu di sini nih…” Ardhi menempelkan ujung telunjuknya di dadaku.

“Iman dan keikhlasan. Kalau kamu masih punya itu, kembalilah di jalan Allah dengan kelapangan. Dakwah membutuhkan orang-orang yang kritis sepertimu, Gus. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya secara tepat. Islam itu mudah, jadi jangan dipersulit, yang hingga akhirnya mempersulit diri sendiri.”

“Sorry, mungkin aku memang kebanyakan bicara. Tapi kamu harus tahu satu hal. Jangan pernah melihat Islam secara personal.”

Kali ini kupaksakan untuk tersenyum.

“Barakallahulaka, akhi. Doakan saja aku.”

“Tentu.”

Hmmm… Kutarik nafas panjang. Kesederhanaan Ardhi, kesederhanaan Islam. Kesucian hati. Hmm, rasanya aku mulai mengerti kenapa aku tak pernah ingin Reina menyentuhku! Hahaha, aku rasa gadis itu paling sudah melupakan aku karena mbak Yona, waria seksi itu, akan mengajaknya bergosip di salon langganannya sambil manicure-pedicure seharian penuh.

WaLLAHu a'lam bishawab, Wassalamu'alaikum warahmatuLLAHI wabarakatuh. sembilanpustaka
~o0o~ sembilanpustaka ~o0o~
READMORE
 

Suami Istri Idaman Ala Al Qur'an

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM... Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, (CATATAN : JANGAN DIBACA PADA SAAT ADZAN DI MESJID SEDANG BERKUMANDANG)

Dengan segala kerendahan hati
mari kita simak pesan-pesan dalam Al-qur'an tentang tujuan hidup kita yang sebenarnya,

Coretan ini untuk kita semuanya...
Untuk mereka yang sudah memiliki arah...
Untuk mereka yang belum memiliki arah...
ataupun untuk mereka yang tidak memiliki arah. Coretan ini untuk kita semuanya.
Semua yang menginginkan kebaikan...

Ketahuilah, Nikah itu ibadah...
Ketahuilah, Nikah itu suci...
ingatlah itu...

Memang nikah itu bisa karena harta,
bisa karena kecantikan,
bisa karena keturunan
dan bisa juga karena agama.

Jangan engkau jadikan harta, keturunan maupun kecantikan sebagai alasan...
karena semua itu akan menyebabkan celaka.
Jadikan agama sebagai alasan...
Engkau akan mendapatkan kebahagiaan.

Tidak dipungkiri bahwa keluarga terbentuk karena cinta....
Namun......

jika cinta engkau jadikan sebagai landasan,
maka keluargamu akan rapuh,
akan mudah hancur.

Jadikanlah "ALLAH" sebagai landasan...
Niscaya engkau akan selamat,
Tidak saja dunia, tapi juga akherat...

Jadikanlah ridho Allah sebagai tujuan...
Niscaya mawaddah, sakinah dan rahmah akan tercapai.

Wahai Fulan,
Jangan engkau menginginkan menjadi raja dalam "istanamu"...
disambut istri ketika datang, dan dilayani segala kebutuhan...
Jika ini kau lakukan, sekejap saja "istanamu" akan terguncang...

Lihatlah manusia ter-agung Muhammad saw...
tidak marah ketika harus tidur di depan pintu, beralaskan sorban, hanya karena sang istri tercinta tak mendengar kedatangannya.

Tetap tersenyum meski tidak mendapatkan makanan tersaji dihadapannya ketika lapar... Menjahit sendiri bajunya yang robek...

Wahai Fulanah,
Jangan engkau menginginkan menjadi ratu dalam "istanamu"...
Disayang, dimanja dan dilayani suami...
Terpenuhi apa yang menjadi keinginanmu...
Jika itu engkau lakukan, "istanamu" akan menjadi neraka bagimu.

Jangan engkau terlalu cinta kepada istrimu...
Jangan engkau terlalu menuruti istrimu...
Jika itu engkau lakukan akan celaka...

Engkau tidak akan dapat melihat perbedaan antara yang hitam dan yang putih,
tidak akan dapat melihat yang benar dan yang salah...

Lihatlah bagaimana ALLAH menegur "Nabi"-mu tatakala mengharamkan apa yang Allah halalkan hanya karena menuruti kemauan sang istri.

Tegaslah terhadap istrimu...
Dengan cintamu, ajaklah dia taat kepada Allah...
Jangan biarkan dia dengan kehendaknya...
Lihatlah bagaimana istri Nuh dan Luth...
Di bawah bimbingan manusia pilihan, justru mereka menjadi penentang...
Istrimu bisa menjadi musuhmu...

Wahai Fulan, didiklah istrimu...
Jadikanlah dia sebagai Hajar, wanita utama yang loyal terhadap tugas suami, Ibrahim.
Jadikanlah dia sebagai Maryam, wanita utama yang bisa menjaga kehormatannya...
Jadikanlah dia sebagaiKhadijah, wanita utama yang bisa mendampingi sang suami Muhammad saw menerima tugas risalah.....

Wahai Fulan,
Istrimu adalah tanggung jawabmu...
Jangan kau larang mereka taat kepada Allah...
Biarkan mereka menjadi wanita shalilah...
Biarkan mereka menjadi Hajar atau Maryam...
Jangan kau belenggu mereka dengan egomu...

Wahai Fulanah,
Jika engkau menjadi istri...
Jangan engkau paksa suamimu menurutimu...
Jangan engkau paksa suamimu melanggar Allah...
Siapkanlah dirimu untuk menjadi Hajar, yang setia terhadap tugas suami.....
Siapkanlah dirimu untuk menjadi Maryam, yang bisa menjaga kehormatannya....
Siapkanlah dirimu untuk menjadi Khadijah, yang bisa yang bisa mendampingi suami menjalankan misi.

Wahai Fulanah,
Jangan kau usik suamimu dengan rengekanmu...
Jangan kau usik suamimu dengan tangismu...
Jika itu kau lakukan... Kecintaannya terhadapmu akan memaksanya menjadi pendurhaka...
jangan...

Wahai Fulan,
Jika engkau menjadi Bapak...
Jadilah bapak yang bijak seperti Lukmanul Hakim
Jadilah bapak yang tegas seperti Ibrahim
Jadilah bapak yang kasih seperti Muhammad saw

Ajaklah anak-anakmu mengenal Allah...
Ajaklah mereka taat kepada Allah...
Jadikan dia sebagai Yusuf yang berbakti...
Jadikan dia sebagai Ismail yang taat...
Tapi jangan engkau jadikan mereka sebagai Kan'an yang durhaka.

Mohonlah kepada Allah...
Mintalah kepada Allah, agar mereka menjadi anak yang shalih...
Anak yang bisa membawa kebahagiaan, dunia dan akhirat.

Wahai Fulanah,
Jika engkau menjadi ibu...
Jadilah engkau ibu yang bijak, ibu yang teduh...
Bimbinglah anak-anakmu dengan air susumu...
Jadikanlah mereka mujahid...
Jadikanlah mereka tentara-tentara Allah...
Jangan biarkan mereka bermanja-manja, hingga terikat jerat dunia...

WaLLAHu a'lam bishawab, Wassalamu'alaikum warahmatuLLAHI wabarakatuh. sembilanpustaka
~o0o~ sembilanpustaka ~o0o~
READMORE
 

Bolehkah Anak Menegur Orang Tua?

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM... Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, (CATATAN : JANGAN DIBACA PADA SAAT ADZAN DI MESJID SEDANG BERKUMANDANG)

(sembilanpustaka.info) Bolehkah Anak Menegur Orang Tua? YA ! sudah tentu boleh bahkan IYA-nya adalah satu usaha yang mulia termasuk dalam pekerjaan para Nabi a.s. Al-Quran di beberapa tempat mencatatkan teguran Nabi ALLAH Ibrahim a.s. kepada orang tuanya. ALLAH subhanahu wa ta'ala berfirman di dalam al-Qur'an:

"Dan (ingatlah) ketika Nabi Ibrahim berkata kepada bapanya Aazar: Patutkah ayah menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?" (QS. al-An'aam : 74)

Hanya saja, dalam menegur orang tua yang tidak menjalankan kewajiban mereka kepada ALLAH subhanahu wa ta'ala hendaklah kita melakukannya dengan bijaksana, agar teguran kita itu tidak melukai hati mereka. Menegur orang tua yang tidak melaksanakan kewajiban mereka adalah termasuk di dalam kerja-kerja dakwah. ALLAH subhanahu wa ta'ala berfirman di dalam al-Qur'an:

"Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah kebijaksanaan dan contoh pengajaran yang baik dan berdialoglah dengan mereka (yang engkau serukan itu) dengan cara yang lebih baik" (QS. al-Nahl : 125)

Memberi teguran kepada orang tua dengan cara yang baik adalah penting agar hubungan seorang anak dengan kedua orang tuanya tidak sampai terputus. Di dalam al-Quran, ALLAH subhanahu wa ta'ala memerintahkan seorang anak agar berlaku baik terhadap orang tuanya:

"Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya dengan menanggung kelemahan demi kelemahan (dari awal mengandung hingga akhir menyusunya) dan tempoh menceraikan susunya ialah dalam masa dua tahun; (dengan yang demikian) bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua ibubapamu; dan (ingatlah), kepada Akulah jua tempat kembali (untuk menerima balasan). " (QS. Lukman : 14)

Perintah berbuat baik kepada dua orang tua, menjaga hati mereka dari terluka adalah suatu yang dipandang serius di dalam agama. Sehingga jika kedua orang tua yang tidak muslim bersungguh-sungguh menyeru anaknya supaya mensyirikkan ALLAh sekalipun al-Quran hanya mengarahkan kita agar tidak taat terhadap suruhan tersebut sebaliknya tetap bergaul dengan mereka dengan cara yang baik. ALLAH subhanahu wa ta'ala berfirman di dalam al-Qur'an:

"Dan jika mereka berdua bersungguh-sungguh mendesakmu supaya engkau mempersekutukan Ku dengan sesuatu yang engkau yang engkau tidak mengetahui, maka janganlah engkau taat kepada mereka dan bergaullah dengan mereka di dunia dengan cara yang baik dan turutlah jalan orang-orang yang kembali kepadaKu (dengan tauhid dan amal-amal yang soleh). Kemudian kepada Akulah tempat kembali kamu semuanya, maka Aku akan menerangkan kepada kamu segala yang kamu telah kerjakan." (QS. Lukman : 15)

Demikianlah betapa al-Quran amat-amat menitik beratkan agar setiap orang berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Jika orang tua yang kafir mengajak anaknya untuk mensyirikkan ALLAH tetap disuruh anak tersebut berbuat baik kepada mereka. Maka orang tua muslim yang tidak menjalankan kewajipan tentulah lebih berhak dibuat baik oleh anaknya. Anaknya mesti memikirkan cara yang terbaik untuk menegur orang tuanya yang tidak menjalankan kewajipan agama agar hati mereka berdua tidak terluka.

KESIMPULAN: Memang benar seorang anak pada prinsipnya harus mentaati kedua orang tuanya. Tetapi persoalan taat ini terbatas pada persoalan yang bersifat mubah, tidak ada larangan dari Allah dan RasulNya. Sementara jika ada larangan dari Allah atau RasulNya, maka tidak diizinkan mentaatinya sebagaimana firman Allah,

"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik" (QS. Luqman:15)

Mempergauli dengan baik di dalam ayat di atas maksudnya adalah bersikap hormat kepada mereka dalam pergaulan. Di antara wujud hormat seorang anak kepada orang tua adalah memegang amanah orang tua, mendahulukan orang tua ketika makan, mentaati perintah dan larangan orang tua, mengutamakan pendapat orang tua atas pendapatnya sendiri, bersikap sopan saat berbicara, dan lain-lain. Penghormatan kepada orang tua di sini tidak menutup kemungkinan memberikan pertimbangan-pertimbangan terhadap kebijakan orang tua, jika ia melihat ada sesuatu yang lebih baik. Tentu kita boleh saja memberikan pertimbangan, bukan untuk menggurui. Yang perlu diingat, dalam menyampaikan tentunya menjaga adab yang baik, penuh rasa hormat dan tawadlu . Tetapi jika kemudian orang tua memilih sesuai dengan pilihannya sendiri, kewajiban anak adalah mentaatinya. Memberi pertimbangan atau menasihati orang tua tidak sama seperti menasihati orang muda. Apalagi menegur, misalnya menegur untuk shalat. Cara yang digunakan mestilah sesuai supaya tidak menyinggung perasaan mereka.
Di sini ingin kami tambahkan, untuk memberi pertimbangan kepada orang tua kadang-kadang memerlukan bantuan dari orang yang dihormati oleh orang tua, baik karena kedudukan, atau usianya lebih tua. Untuk itu ada baiknya Anda memohon bantuan kepada mereka yang dihormati orang tua Anda untuk ikut serta memberikan masukan saran atau nasihat kepada orang tua Anda. Tetapi tentunya dengan menjaga agar orang ketiga ini tidak terlalu masuk ke dalam urusan orang tua, sekedar membuka wacana bagi orang tua saja. Atau jika mungkin diberikan bahan-bahan bacaan, persilakan orang tua untuk membaca bahan-bahan yang bermanfaat. Yang terakhir, selalu do akanlah orang tua Anda, semoga Allah memberikan hidayah kepadanya.

WaLLAHu a'lam bishawab, Wassalamu'alaikum warahmatuLLAHI wabarakatuh. sembilanpustaka
~o0o~ sembilanpustaka ~o0o~
READMORE
 

Perpisahan Itu Terjadi Karena ALLAH

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM... Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

(CATATAN : JANGAN DIBACA PADA SAAT ADZAN DI MESJID SEDANG BERKUMANDANG)

Sebut saja namanya Ahmad. Dia mendapat amanah sebagai ketua panitia ikhwan pada walimahan teman sekampusnya, Bintang (si mempelai ikhwan). Akad nikah & walimahan itu sendiri diselenggarakan di rumah mempelai ikhwan. Hingga pada hari H, semua pantia dan para anggota rumah itu sangat sibuk. Karena "menjabat" sebagai ketua pantia otomatis Ahmad diharuskan mondar mandir dan menyebarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan untuk mengawasi para panitia ikhwan.

Dan disudut ruangan itulah duduk seorang ikhwan yang sejak acara akad nikah Ahmad perhatikan selalu mengusap air mata. "Mungkin terharu", pikir Ahmad. Usai akad nikah, para undangan keluar dari ruang tamu tempat acara akad dan yang lain mulai sibuk mempersiapkan acara walimatul ursy. Namun Ahmad masih memperhatikan ikhwan itu tetap duduk disudut ruangan dengan mata yang sembab. Ahmad tidak mengenal ikhwan itu, Ahmad khawatir kalau-kalau ikhwan itu sedang tidak enak badan, maka seketika itu pula Ahmad menghampirinya untuk berbasa-basi.

“Assalamu’alaikum Akhi…., Afwan, antum sakit kah?”, Tanya Ahmad.
Ikhwan itupun membalas dengan ramah, “Wa’alaikumsalam….eh nggak kok, Syukron Akh…”
Tapi Ahmad masih melihat airmata itu tak berhenti keluar dari mata itu. Ahmad kemudian mengajaknya berkenalan. Namun Ahmad sangat terkejut karena tiba-tiba ikhwan tersebut semakin terisak. Ahmad bingung, dan karena khawatir menarik perhatian yang lain, Ahmad membawanya kesebuah kamar yang kosong. "Sepertinya ada sesuatu nih", pikir Ahmad.

Dikamar itu, dia semakin terisak-isak dan mengalirlah cerita tentang siapa dirinya dan kenapa dia sampai menangis seperti itu. Namanya Fulan (Sebut saja begitu), dia adalah teman dari mempelai akhwat sejak mereka masih SMU, dan mereka sempat pacaran 3 tahun selama SMU (itu sebelum mereka berdua hijrah menjadi ikhwan/ikhwan). di awal-awal kuliah (keduanya kuliah di kota yang berbeda), mereka sedang berproses untuk menjadi seorang muslim yang berkomitmen menjadikan diri mereka sebagai salah satu penyokong barisan dakwah.

Otomatis, pada akhirnya keduanya melepas ikatan yang tidak suci itu. Kala itu Fulan sempat menyatakan bahwa jika nanti tiba saatnya dia memiliki kesiapan utk menggenapkan separuh dien-nya, dan jika Fulanah (sang akhwat) belum dipinang orang lain, dia pasti akan mendatangi Fulan sebagai orang yang telah siap menjadikan dirinya sebagai seorang imam dalam jamaah terkecil, sebuah keluarga. Dan ternyata itu memberikan harapan yang luar biasa pada Fulan. Setelah itu mereka nyaris tidak ada komunikasi sama sekali. Mereka tenggelam dalam kesibukan berdakwah & meng-ishlah diri.

Sampai beberapa hari menjelang saat ini, beberapa bulan setelah mereka wisuda, terdengar kabar bahwa Fulanah akan melangsungkan walimah. Fulan sangat tersentak dengan kabar itu. Dia tidak diundang sama sekali, padahal Fulanah tidak mungkin lupa alamat rumah Fulan. Fulan berusaha keras mencari tahu dimana alamat tempat acara walimahan itu. Dan disinilah Fulan hari ini. Menatap si pemberi janji yang ternyata tidak menepati janjinya. Merelakan seseorang di masa lalunya yang menghancurkan harapannya yang dia simpan selama ini. Dan menyesali dirinya yang ternyata bodoh & lugu, masih percaya pada manusia yang alpa dan dhoif, yang tidak mustahil melupakan janjinya. Memang hanya janji ALLAH yang benar-benar pasti.

"Pertemuan karena ALLAH, maka perpisahan pun pasti karena ALLAH. Jangan bersedih untuk sebuah perpisahan. Karena setelah perpisahan itu, telah menunggu pertemuan lain yang lebih indah. Ya, ALLAH pasti telah siapkan pertemuan-pertemuan lain yang lebih indah. Karena dari sebuah perpisahan ada tiga pesan untuk kita renungi : kebersamaan, kenangan, dan pertemuan kembali."

WaLLAHu a'lam bishawab, Wassalamu'alaikum warahmatuLLAHI wabarakatuh.

sembilanpustaka

~o0o~ sembilanpustaka ~o0o~
READMORE